Kamis, 23 April 2026

KPK Ungkap Pola Korupsi Berbasis “Circle”, Libatkan Keluarga hingga Kolega Politik

Kamis, 23 April 2026 09:40 WIB
KPK Ungkap Pola Korupsi Berbasis “Circle”, Libatkan Keluarga hingga Kolega Politik
Juru Bicara KPK Budi Prasetyo.

Jakarta (buseronline.com) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengungkap pola baru dalam praktik tindak pidana korupsi yang melibatkan jejaring atau "circle" pelaku.

Dilansir dari laman KPK, pola ini menunjukkan bahwa korupsi tidak dilakukan secara individu, melainkan melibatkan lingkaran terdekat seperti keluarga, orang kepercayaan, rekan kerja, hingga kolega politik.

Juru Bicara KPK Budi Prasetyo mengatakan bahwa fenomena ini terungkap dari berbagai perkara yang tengah dan telah ditangani lembaganya.

"Dalam banyak kasus, terdapat pembagian peran dalam circle tersebut. Mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga penyamaran aliran dana hasil korupsi," ujar Budi dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Baca Juga: KPK Ingatkan Bahaya Gratifikasi Berkedok Ucapan Terima Kasih

KPK mencontohkan sejumlah kasus di daerah yang memperlihatkan pola serupa. Di Kabupaten Pekalongan, bupati diduga mengintervensi proses tender melalui keluarganya untuk memenangkan perusahaan milik keluarga. Sementara di Kabupaten Bekasi, ditemukan dugaan praktik 'ijon' proyek yang melibatkan hubungan ayah dan anak.

Pola lain juga terlihat di Kabupaten Tulungagung, di mana orang kepercayaan bupati seperti ajudan berperan dalam menagih setoran dari perangkat daerah. Adapun di Kabupaten Cilacap, koordinasi permintaan uang dilakukan bersama oleh bupati dan jajaran pejabat daerah lainnya.

Di Kabupaten Ponorogo, KPK menemukan dugaan praktik balas jasa terhadap pemodal politik setelah pelaksanaan Pilkada 2024. Sedangkan di lingkungan Pemerintah Provinsi Riau, gubernur diduga menggunakan perantara dari orang kepercayaannya untuk menerima aliran dana.

Tak hanya itu, dalam perkara di Bea Cukai, KPK juga menemukan skema berlapis, termasuk penggunaan nama pihak lain sebagai nominee untuk menampung dana serta penyimpanan uang di lokasi tertentu seperti safe house.

Budi menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan korupsi telah berkembang menjadi semacam ekosistem yang terorganisir. "Korupsi layaknya ekosistem kecil. Ada yang mengatur, menjalankan, menyimpan, hingga mengamankan," katanya.

Editor
: Administrator
beritaTerkait
KPK Serahkan Aset Rampasan Rp3,52 Miliar ke Lemhannas untuk Optimalkan Pemanfaatan Negara
KPK: Seperempat Perkara Korupsi Terkait Pengadaan Barang dan Jasa
KPK Ingatkan Bahaya Gratifikasi Berkedok Ucapan Terima Kasih
KPK Gelar ACFFEST 2026 di Riau, Edukasi Antikorupsi Lewat Film
Korupsi Kepala Daerah Berulang, KPK Soroti Biaya Politik dan Sistem Pemilu
Perempuan Lansia Gaungkan Nilai Antikorupsi di KPK dalam Semangat Kartini
komentar
beritaTerbaru