Kamis, 05 November 2026

Kemendikdasmen Revitalisasi 836 SLB, Prioritaskan Fasilitas Ramah Disabilitas

Kamis, 05 November 2026 19:10 WIB
Kemendikdasmen Revitalisasi 836 SLB, Prioritaskan Fasilitas Ramah Disabilitas
Mendikdasmen RI Abdul Mu’ti.

Tangerang (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI merevitalisasi 836 Sekolah Luar Biasa (SLB) pada 2026.

Dilansir dari laman Kemendikdasmen, program ini difokuskan pada peningkatan keamanan bangunan, aksesibilitas, serta penyediaan fasilitas pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik penyandang disabilitas.

Program tersebut diperkuat melalui kegiatan finalisasi desain teknis pembangunan atau Detail Engineering Design (DED) dan bimbingan teknis yang digelar di Tangerang, Banten, pada 29 Oktober hingga 5 November 2026.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Abdul Mu'ti mengatakan setiap anak berhak memperoleh pendidikan yang layak, termasuk anak-anak penyandang disabilitas. Karena itu, kondisi bangunan dan fasilitas sekolah harus mampu mengakomodasi kebutuhan seluruh peserta didik.

"Revitalisasi ini bukan tujuan, tetapi sarana untuk menghadirkan gedung sekolah yang representatif dan pendidikan yang unggul," ujar Abdul Mu'ti saat membuka kegiatan di Tangerang, pada 2 November 2026.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, mengungkapkan kebutuhan perbaikan sarana pendidikan di Indonesia masih cukup besar.

Berdasarkan Data Pokok Pendidikan (Dapodik), lebih dari 900 ribu ruang kelas mengalami kerusakan sedang dan berat sehingga membutuhkan penanganan. Sejumlah sekolah juga masih membutuhkan ruang kelas baru.

"Di balik angka-angka tersebut ada jutaan anak yang menanti ruang belajar yang aman, nyaman, sekaligus layak, termasuk anak-anak berkebutuhan khusus di SLB," kata Tatang.

Ia menjelaskan, program revitalisasi SLB merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto dan pelaksanaan Asta Cita keempat. Bantuan disalurkan langsung ke rekening sekolah dan dikelola melalui mekanisme swakelola.

Dengan mekanisme tersebut, sekolah bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pembangunan serta dapat melibatkan masyarakat dan memanfaatkan bahan bangunan dari lingkungan sekitar.

Tatang juga mengingatkan kepala sekolah agar menggunakan bantuan sesuai kebutuhan dan perencanaan yang telah disusun. Pengawasan program turut melibatkan Kejaksaan Agung dan Kementerian Keuangan, termasuk dalam memastikan kepatuhan terhadap ketentuan perpajakan.

Sementara itu, Plt Kepala SLBN Surade Rhadeya Phawitra menyampaikan sekolahnya membutuhkan ruang serbaguna, ruang usaha kesehatan sekolah (UKS), dan ruang keterampilan.

Menurutnya, kondisi bangunan yang sudah tua, atap yang bermasalah, serta instalasi listrik yang tidak stabil menjadi kendala dalam menunjang kegiatan belajar mengajar. Kondisi tersebut juga dapat mengganggu penggunaan perangkat elektronik, termasuk Papan Interaktif Digital (PID).

Selain kondisi bangunan, aksesibilitas menjadi aspek penting dalam revitalisasi SLB. Jalur yang sulit dilalui dapat membatasi aktivitas peserta didik dengan hambatan motorik, khususnya pengguna kursi roda.

Dengan fasilitas yang lebih aksesibel, peserta didik diharapkan dapat mengikuti kegiatan sekolah di luar kelas dan berinteraksi dengan teman-temannya secara lebih mandiri.

Kebutuhan fasilitas khusus juga disampaikan Kepala SKH Melati Ceria Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Rina Hadiastuti. Ia mengatakan sekolahnya membutuhkan ruang bina wicara dan terapi okupasi.

Selama ini, layanan tersebut dilakukan di rumah milik orang tua murid yang dipinjamkan kepada sekolah. Lokasinya cukup jauh dan ruangan yang digunakan belum memiliki sekat untuk memisahkan aktivitas pendampingan.

Rina mencontohkan, pernah terjadi dua guru memberikan pembelajaran kepada dua peserta didik autistik dalam satu ruangan dengan instruksi berbeda. Seorang guru memberikan instruksi "tutup", sementara guru lainnya memberikan instruksi "buka". Situasi tersebut membuat peserta didik kebingungan.

Karena itu, keberadaan ruang khusus yang lebih tenang dan tertata dinilai penting agar proses pembelajaran dan pendampingan dapat berjalan sesuai kebutuhan masing-masing anak.

Kegiatan finalisasi DED dan bimbingan teknis revitalisasi SLB dilaksanakan dalam dua gelombang. Gelombang pertama berlangsung pada 29 Oktober-1 November 2026, sedangkan gelombang kedua pada 2-5 November 2026.

Pada gelombang kedua, kegiatan diikuti 315 peserta yang terdiri atas 133 kepala sekolah, 133 tenaga perencana, serta 49 panitia dan pendamping.

Tatang menegaskan keberhasilan revitalisasi tidak hanya diukur dari selesainya pembangunan atau perbaikan gedung, tetapi juga dari sejauh mana fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan peserta didik.

"Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, sekolah yang layak bukan sekadar fasilitas. Sekolah adalah ruang untuk merasa aman, dihargai, diterima, dan diberi kesempatan yang sama untuk berkembang," pungkasnya.

Melalui revitalisasi ini, Kemendikdasmen berharap SLB memiliki sarana dan prasarana yang lebih aman, nyaman, serta aksesibel. Dengan demikian, peserta didik penyandang disabilitas dapat memperoleh layanan pendidikan yang berkualitas sekaligus kesempatan untuk mengembangkan potensi dan kemandirian mereka. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemendikdasmen Dorong Lulusan SMK Isi Peluang Kerja Caregiver di Luar Negeri
ImajiNation 2026 Masuki Babak Final, 6.800 Peserta dari 38 Provinsi Ikuti Kompetisi Koding Visual
Kemendikdasmen Perkuat Kompetensi dan Kesejahteraan Guru di Bulan Guru Nasional 2026
Kemendikdasmen Luncurkan 16 Produk Kebahasaan dan Kesastraan, Perkuat Budaya Literasi
TKA 2026 Gelombang 1 Tuntas, Diikuti 1,6 Juta Murid SMA dan SMK
Kemendikdasmen dan UNESCO Luncurkan Panduan Keluarga, Perkuat Literasi Digital Anak
komentar
beritaTerbaru