Semarang (buseronline.com) - Central Java Investment Forum (CJIBF) 2026 mencatat capaian positif. Baru sehari dibuka oleh Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, forum investasi tersebut berhasil menghimpun 40 letter of intent (LOI) atau nota minat investasi dengan total nilai mencapai Rp16 triliun.
Dilansir dari laman Jatengprov, minat investasi tersebut diperoleh dari rangkaian one on one meeting antara calon investor dengan pemerintah daerah, pengelola kawasan industri, serta pelaku usaha di
Jawa Tengah.
Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah, Sakina Rosellasari, mengatakan bahwa 40 LOI itu berasal dari pembahasan 21 proyek investasi yang ditawarkan kepada para investor.
"Tentunya ini menjadi tugas dari DPMPTSP untuk mengawal. Kepeminatan yang kemudian sudah tanda tangan letter of intent ini kita kawal untuk betul-betul menjadi realisasi investasi," ujar Sakina di sela acara gala dinner Forum Kerja Sama Daerah Mitra Praja Utama (FKD MPU) di Hotel Tentrem Semarang, Senin.
Menurut Sakina, proyek yang ditawarkan mencakup berbagai sektor strategis, seperti renewable energy, pertanian dan hilirisasi pangan, pariwisata, hingga pertambangan. Selain itu, empat kawasan industri utama di Jawa Tengah juga menjadi daya tarik bagi investor.
Keempat kawasan industri tersebut yakni Kendal Special Economic Zone, Industropolis Batang Special Economic Zone, Wijayakusuma Industrial Park, dan Jatengland Industrial Park Sayung.
Ia menjelaskan, investor yang menunjukkan minat tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Sejumlah negara yang menyatakan ketertarikan investasi di antaranya Thailand, China, dan India.
Sektor yang paling diminati investor domestik meliputi industri manufaktur, biomassa, geothermal, industri garam, serta mocaf dan hilirisasi produk pertanian.
"Ada penanaman modal asing (PMA) dan ada penanaman modal dalam negeri (PMDN). Kepeminatan itu kami kawal terus. Biasanya juga butuh waktu 1-2 tahun untuk realisasi investasi karena investor masih melakukan kajian," jelasnya.
Sakina menambahkan, penyelenggaraan CJIBF menjadi salah satu upaya pemerintah untuk meningkatkan capaian investasi
Jawa Tengah. Pada 2025 lalu, realisasi investasi di provinsi tersebut mencapai Rp110 triliun dan diharapkan meningkat pada tahun ini.
Sementara itu, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan, investasi memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada triwulan I 2026 mencapai 5,89 persen atau lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 5,61 persen. "Artinya, untuk meningkatkan ekonomi di wilayah kita perlu adanya forum-forum seperti ini," kata Luthfi.
Untuk mendukung iklim investasi, Pemerintah Provinsi
Jawa Tengah juga menyiapkan sekitar 12 kawasan industri dan ekonomi khusus baru melalui kolaborasi antara pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota. (R)
beritaTerkait
komentar