Semarang (buseronline.com) - Menjelang peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 2026, Gubernur Ahmad Luthfi menggelar dialog bersama para buruh dan pekerja untuk menyerap berbagai aspirasi di Truntum Gama, Semarang, Senin.
Dilansir dari laman Jatengprov, dialog ini dihadiri perwakilan dari 78 serikat pekerja dan serikat buruh se-Jawa Tengah. Agenda serupa juga telah dilaksanakan pada 2025 sebagai upaya menjaga komunikasi antara pemerintah dan kalangan pekerja.
Dalam forum tersebut, para buruh menyampaikan sejumlah persoalan krusial, seperti pemutusan hubungan kerja (PHK), ketidakjelasan pembayaran pesangon, hingga isu kesejahteraan tenaga kerja.
Menanggapi hal itu,
Ahmad Luthfi menjawab langsung berbagai aspirasi yang disampaikan. Ia juga mengajak para buruh untuk memperingati
May Day 2026 dengan kegiatan yang konstruktif dan tetap menjaga kondusivitas wilayah.
"Pada peringatan May Day nanti, mari adakan kegiatan yang konstruktif tanpa mengurangi hakikat May Day itu sendiri, yaitu dengan menjaga hubungan industrial yang kondusif," ujar Luthfi.
Menurutnya, hubungan industrial yang harmonis antara pekerja, perusahaan, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan iklim investasi yang sehat. Stabilitas keamanan dan ketertiban wilayah dinilai sebagai faktor penting dalam menarik investor.
"Begitu tidak kondusif, maka investasi di tempat kita akan terganggu," tegasnya. Selain itu, kemudahan perizinan juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Pemprov Jawa Tengah berkomitmen mempercepat proses perizinan serta memperluas kawasan industri dan kawasan ekonomi khusus guna meningkatkan daya tarik investasi.
Luthfi turut menekankan pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan vokasi, balai latihan kerja (BLK), dan politeknik yang terhubung dengan kebutuhan industri.
"Kami ingin pekerja dan buruh bukan hanya sebagai alat produksi, tetapi juga berperan dalam mengembangkan perusahaan," jelasnya.
Ia memaparkan, realisasi investasi di Jawa Tengah pada 2025 mencapai Rp110,02 triliun. Angka tersebut terdiri dari Rp50,86 triliun penanaman modal asing (PMA), Rp37,64 triliun penanaman modal dalam negeri (PMDN), serta Rp21,52 triliun dari sektor usaha mikro kecil (UMK).
Investasi tersebut mampu menyerap sekitar 340 ribu tenaga kerja, sehingga berkontribusi menekan tingkat pengangguran terbuka dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah hingga 5,37% pada 2025.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, menyosialisasikan program pembangunan 3 juta rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang menyasar anggota serikat pekerja dan buruh.
"Harapannya program ini dapat dimanfaatkan oleh anggota serikat pekerja dan buruh untuk mendapatkan akses perumahan yang layak," pungkasnya. (R)
beritaTerkait
komentar