Sabtu, 18 April 2026

Indonesia Jajaki Ekspor Urea ke Australia di Tengah Gangguan Pasokan Global

Sabtu, 18 April 2026 15:15 WIB
Indonesia Jajaki Ekspor Urea ke Australia di Tengah Gangguan Pasokan Global
Wamentan Sudaryono dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian, Rabu (15/4/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Pemerintah Indonesia membuka peluang ekspor pupuk urea ke Australia di tengah terganggunya rantai pasok pupuk global.

Hal ini mengemuka dalam pertemuan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono dengan Duta Besar Australia untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian, Rabu.

Wamentan Sudaryono mengatakan, dinamika geopolitik dunia, termasuk dampak penutupan Selat Hormuz, telah memengaruhi distribusi pupuk internasional.

Sekitar sepertiga pasokan pupuk global diketahui melewati jalur tersebut, sehingga gangguan yang terjadi berdampak signifikan terhadap ketersediaan pupuk dunia.

"Dengan adanya disrupsi ini, banyak negara membutuhkan urea. Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga tidak bergantung pada impor," ujar Sudaryono dilansir dari laman Kementan.

Ia menjelaskan, kapasitas produksi urea nasional yang dikelola PT Pupuk Indonesia (Persero) mencapai sekitar 9,36 juta hingga 9,4 juta ton per tahun.

Untuk tahun 2026, produksi ditargetkan sebesar 7,8 juta ton, dengan kebutuhan subsidi dalam negeri sekitar 6,3 juta ton. Dengan demikian, terdapat potensi ekspor sekitar 1,5 juta ton.

Meski membuka peluang ekspor, Sudaryono menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan dalam negeri tetap menjadi prioritas utama pemerintah.

"Kebutuhan pupuk untuk petani Indonesia adalah super prioritas. Setelah itu terpenuhi, baru sisa produksi dapat dialokasikan untuk ekspor," tegasnya.

Selain Australia, minat terhadap urea Indonesia juga datang dari sejumlah negara lain seperti India, Filipina, dan Brasil. Namun pemerintah tetap berhati-hati agar tidak menjanjikan pasokan yang melebihi kapasitas produksi nasional.

Sudaryono juga menyoroti hubungan dagang pupuk antara Indonesia dan Australia yang bersifat timbal balik. Indonesia mengekspor urea, sementara di sisi lain juga mengimpor bahan baku pupuk seperti fosfat, termasuk DAP (Diammonium Phosphate), dari Australia.

"Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah menjaga kepentingan nasional sekaligus hubungan dagang yang sehat," katanya.

Lebih lanjut, ia memastikan bahwa ketersediaan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, dalam kondisi aman. Tingginya serapan pupuk oleh petani disebut menjadi indikator meningkatnya aktivitas tanam di berbagai daerah.

"Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1-2 hari biasanya sudah tersedia kembali," jelasnya.

Ke depan, pemerintah berencana melakukan peremajaan pabrik pupuk yang sudah tua guna meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional.

Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pupuk dalam negeri sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kementan Perkuat Implementasi Nilai Ekonomi Karbon untuk Dorong Pertanian Rendah Emisi
Indonesia Bidik Peluang Ekspor Pupuk Global di Tengah Gangguan Distribusi Selat Hormuz
komentar
beritaTerbaru