Sudaryono juga menyoroti hubungan dagang pupuk antara Indonesia dan Australia yang bersifat timbal balik. Indonesia mengekspor urea, sementara di sisi lain juga mengimpor bahan baku pupuk seperti fosfat, termasuk DAP (Diammonium Phosphate), dari Australia.
"Ini hubungan yang resiprokal. Kita saling membutuhkan. Yang penting adalah menjaga kepentingan nasional sekaligus hubungan dagang yang sehat," katanya.
Lebih lanjut, ia memastikan bahwa ketersediaan pupuk dalam negeri, khususnya pupuk subsidi, dalam kondisi aman. Tingginya serapan pupuk oleh petani disebut menjadi indikator meningkatnya aktivitas tanam di berbagai daerah.
"Kalau ada petani yang tidak menemukan pupuk di kios, itu lebih kepada distribusi yang sedang berjalan cepat. Dalam 1-2 hari biasanya sudah tersedia kembali," jelasnya.
Ke depan, pemerintah berencana melakukan peremajaan pabrik pupuk yang sudah tua guna meningkatkan efisiensi dan kapasitas produksi nasional.
Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ketahanan pupuk dalam negeri sekaligus memaksimalkan peluang ekspor di tengah tingginya permintaan global. (R)
beritaTerkait
komentar