Pabrik SK Plasma dengan nilai investasi mencapai USD300 juta dan kapasitas produksi 600 ribu liter plasma per tahun telah rampung dibangun pada 2026. Fasilitas fraksionasi plasma pertama di Indonesia itu ditargetkan mulai beroperasi pada 2027 setelah memperoleh izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Keberhasilan tersebut kemudian disusul masuknya Takeda sebagai investor pabrik plasma kedua di Indonesia dengan kapasitas produksi yang lebih besar.
Selain industri plasma darah, pemerintah juga terus memperkuat kemandirian produksi vaksin nasional melalui operasional PT Etana Biotechnologies Indonesia dan PT Biotis Pharmaceuticals Indonesia. PT Biotis turut mengembangkan Vaksin Merah Putih yang merupakan hasil penelitian anak bangsa.
Budi menegaskan, pembangunan fasilitas produksi obat dan vaksin di dalam negeri merupakan langkah strategis untuk memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat dapat dipenuhi secara berkelanjutan.
"Melalui Transformasi Ketahanan Kesehatan, kita tidak sekadar belajar dari krisis, tetapi bertindak nyata membenahinya. Lewat berdirinya fasilitas produksi dari Etana, Biotis, SK Plasma, dan Takeda, kita pastikan ketersediaan obat dan vaksin rakyat ke depan akan selalu aman, terjangkau, dan diproduksi di negeri sendiri," ujarnya. (R)
beritaTerkait
komentar