Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI berhasil menarik investasi asing di sektor hilirisasi industri kesehatan melalui komitmen perusahaan biofarmasi asal Jepang, Takeda, untuk membangun pabrik produk turunan plasma darah (Plasma Derived Products/PDP) di Indonesia.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan investasi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat ketahanan kesehatan nasional melalui pengembangan industri farmasi dalam negeri. Langkah ini merupakan implementasi Pilar Ketiga Transformasi Kesehatan, yakni Ketahanan Kesehatan.
Menurut Budi, pengalaman selama pandemi Covid-19 menunjukkan pentingnya kemandirian produksi obat dan alat kesehatan. Saat itu, Indonesia mengalami kelangkaan berbagai kebutuhan medis akibat tingginya ketergantungan terhadap produk impor.
"Di masa pandemi, masyarakat sangat kesulitan dan harus membayar mahal untuk mendapatkan obat-obatan esensial kategori Plasma Derived Products (PDP) seperti Albumin, IVIG, Faktor-8, dan Faktor-9," ujar Budi dalam siaran pers di Jakarta, Kamis.
Ia menjelaskan, PDP merupakan obat yang berfungsi meningkatkan daya tahan tubuh serta membantu proses pembekuan darah. Produk tersebut dihasilkan melalui proses fraksionasi plasma dari darah manusia.
Budi menilai Indonesia memiliki potensi besar untuk memproduksi PDP secara mandiri karena didukung ketersediaan bahan baku plasma darah yang melimpah.
"Sebagai negara dengan penduduk keempat terbanyak di dunia, kita sebenarnya memiliki sumber daya bahan baku darah yang sangat melimpah untuk diolah secara mandiri menjadi PDP. Ini yang sedang kita hilirisasi," katanya dilansir dari laman Kemenkes.
Sebagai bagian dari upaya tersebut,
Kemenkes telah merelaksasi regulasi pembangunan pabrik plasma sejak 2023. Kebijakan itu mendorong masuknya investasi dari SK Plasma asal Korea Selatan yang bekerja sama dengan Indonesia Investment Authority (INA).
beritaTerkait
komentar