Minggu, 13 September 2026

Kemenkes Temukan PM2,5 di Bandara Soekarno-Hatta Masih di Atas Batas Aman

Minggu, 13 September 2026 19:15 WIB
Kemenkes Temukan PM2,5 di Bandara Soekarno-Hatta Masih di Atas Batas Aman
Kemenkes RI memperkuat pemantauan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah.

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memperkuat pemantauan kualitas udara menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang menyebabkan sebaran abu vulkanik di sejumlah wilayah.

Dilansir dari laman Kemkes, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Prof Dante Saksono Harbuwono turun langsung memantau kualitas udara di sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, pada 9 September 2026.

Pemantauan dilakukan menggunakan particulate counter untuk mengukur konsentrasi partikulat, khususnya PM2,5. Hasil pengukuran menunjukkan kualitas udara di sejumlah area luar ruangan masih perlu diwaspadai.

Di Terminal Damri Bandara Soekarno-Hatta, misalnya, konsentrasi PM2,5 tercatat 63 µg/m³, jauh di atas batas aman 25 µg/m³.

Dante mengatakan kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun aktivitas penerbangan telah dapat berjalan berdasarkan hasil paper test, kualitas udara tetap menjadi perhatian dari sisi kesehatan masyarakat.

"Mungkin kalau untuk otoritas bandara itu menggunakan paper test untuk keamanan penerbangan, tapi ternyata particulate matter untuk kesehatannya masih tinggi," ujar Dante.

Menurut dia, pengukuran dengan particulate counter penting untuk mengetahui keberadaan partikel berukuran kecil yang tidak selalu terlihat secara kasatmata, tetapi dapat masuk ke saluran pernapasan.

"Untuk kesehatan, itu kita pakai yang 2,5. Kalau nanti partikel yang lebih besar kita anggap sudah mulai menurun, tapi 2,5-nya masih ada, masih tinggi," jelasnya.

Berdasarkan pemantauan Kemenkes pada 8 September 2026, sejumlah titik di Bandara Soekarno-Hatta dan wilayah sekitarnya juga masih mencatat konsentrasi PM2,5 dan PM10 di atas batas aman. Pengukuran dilakukan secara berkala oleh Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) dan Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK).

Dampak kesehatan akibat paparan abu vulkanik juga terus dipantau. Kemenkes mencatat hingga 6 September 2026 terdapat 16.759 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di wilayah terdampak abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.

Kasus tersebut tersebar di empat provinsi dan 23 kabupaten/kota. Sebanyak 3.771 kasus terjadi pada anak usia 0-5 tahun, sedangkan 12.988 kasus terjadi pada kelompok usia di atas lima tahun.

Dante menyebut angka kejadian ISPA pada 2026 berdasarkan pemantauan Kemenkes lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025.

Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada terhadap dampak paparan abu vulkanik, meskipun aktivitas penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta telah kembali berjalan.

"Yang paling penting adalah bahwa masyarakat tetap harus waspada. Walaupun bandara sekarang sudah dibuka, ternyata masalah kesehatan dari pengukuran particulate counter ini masih terus berdampak untuk kesehatan," katanya.

Kemenkes mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara masih buruk. Masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah juga disarankan menggunakan masker.

"Misalnya stay at home, kemudian menggunakan masker, kalau ada gejala datang ke fasilitas kesehatan," ujar Dante.

Sementara itu, kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan penyakit tertentu diminta meminimalkan aktivitas di luar ruangan.

Kemenkes memastikan pemantauan kualitas udara dan perkembangan dampak kesehatan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau akan terus dilakukan guna melindungi masyarakat dari risiko paparan abu vulkanik. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kemenkes Pastikan BIAS Tetap Berjalan, KIPI Siswi di Karo Dinyatakan Koinsiden
Kemenkes Siagakan 413 Rumah Sakit dan 830 Puskesmas Hadapi Erupsi Gunung Anak Krakatau
Kemenkes Kerahkan 160 Tenaga Kesehatan untuk Pulihkan Kesehatan Warga Terdampak Gempa NTT
Hari Ketiga, Pencarian 8 Orang di Perairan Anak Krakatau Diperluas Jadi Enam Sektor
Polri-Basarnas Perkuat Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Anak Krakatau
Kemendikdasmen Imbau Sekolah Utamakan Keselamatan di Tengah Erupsi Gunung Anak Krakatau
komentar
beritaTerbaru