Bandung (buseronline.com) - Dinas Kesehatan Jawa Barat mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai penyakit yang berpotensi muncul selama musim kemarau ekstrem yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang tahun ini.
Dilansir dari laman Jabarprov, Kepala Dinas Kesehatan
Jawa Barat Vini Adiani Dewi mengatakan kondisi kemarau yang berkepanjangan dapat memicu sejumlah gangguan kesehatan, mulai dari diare, infeksi saluran pernapasan akut (
ISPA), dehidrasi, hingga malnutrisi.
Menurut Vini, berkurangnya pasokan air bersih selama musim kemarau dapat menurunkan tingkat kebersihan masyarakat. Kondisi tersebut menyebabkan virus dan bakteri lebih mudah berkembang dan meningkatkan risiko terjadinya diare.
"Musim kemarau ekstrem mengakibatkan pasokan air bersih menurun sehingga kebersihan berkurang. Kondisi itu menjadikan virus dan bakteri terkonsentrasi sehingga beberapa penyakit berkembang, seperti diare," ujarnya, Minggu.
Selain itu, suhu udara yang tinggi selama musim kemarau juga meningkatkan risiko dehidrasi akibat tubuh kehilangan banyak cairan. Masyarakat juga diminta mewaspadai heatstroke atau kondisi peningkatan suhu tubuh secara drastis yang dapat membahayakan kesehatan.
Vini menjelaskan, gejala heatstroke yang perlu diwaspadai antara lain suhu tubuh mencapai lebih dari 40 derajat Celsius, kulit terasa panas dan kemerahan, pusing, serta muntah. Jika mengalami gejala tersebut, masyarakat diminta segera mencari pertolongan medis.
Di sisi lain, kualitas udara yang memburuk akibat asap dan kondisi lingkungan yang kering juga berpotensi meningkatkan kasus ISPA selama musim kemarau.
Tidak hanya itu, kemarau panjang yang menyebabkan kekeringan dapat berdampak pada menurunnya produksi pangan. Kondisi tersebut berisiko memicu malnutrisi, terutama pada kelompok masyarakat rentan.
Untuk mengantisipasi berbagai risiko kesehatan tersebut, Dinkes Jabar mengimbau masyarakat menerapkan langkah-langkah pencegahan, seperti mencukupi kebutuhan cairan tubuh, beristirahat yang cukup, menggunakan payung atau topi saat beraktivitas di bawah terik matahari, serta mengonsumsi makanan bergizi.
Masyarakat juga diminta menjaga kebersihan lingkungan, melakukan penghijauan dengan menanam pohon, serta menghindari praktik pembakaran sampah maupun lahan yang dapat memperburuk kualitas udara selama musim kemarau. (R)
beritaTerkait
komentar