Wonosobo (buseronline.com) - Upaya penguatan edukasi kesehatan mental bagi santri terus didorong sebagai langkah pencegahan kasus perundungan (bullying), kekerasan, dan berbagai persoalan psikologis di lingkungan pesantren.
Ketua Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Jawa Tengah Nawal Arafah Yasin mengatakan kesehatan mental menjadi isu penting yang perlu mendapat perhatian serius, khususnya di kalangan remaja dan santri.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber pada kegiatan Pesantren Ramah Perempuan dan Anak (Penak) bertema Membangun Kesadaran Kesehatan Mental dan Santri Konselor Sebaya di Pesantren di Pondok Pesantren Al Mubarok, Kabupaten Wonosobo, Senin.
Menurut Nawal, penguatan ketahanan emosional diperlukan untuk membentuk generasi muda yang tangguh di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan sosial. "Kesehatan mental ini menjadi salah satu isu yang terus kita berikan penguatan," ujarnya dilansir dari laman Jatengprov.
Ia menjelaskan, edukasi kesehatan mental tidak hanya dilakukan di pesantren, tetapi juga akan diperluas ke sekolah-sekolah, termasuk melalui kegiatan masa orientasi siswa.
Nawal menilai generasi muda saat ini menghadapi tantangan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya. Karena itu, kemampuan mengelola tekanan dan membangun resiliensi emosional perlu terus diperkuat melalui pembinaan dan pendampingan.
Dalam kesempatan tersebut, Nawal juga menyoroti masih terjadinya kasus kekerasan dan perundungan di lingkungan pesantren. Berdasarkan data Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah, tercatat 30 kasus kekerasan di pesantren sepanjang 2019 hingga 2025.
Untuk menekan angka tersebut, BKOW
Jawa Tengah mendorong pembentukan satuan tugas (Satgas) anti-bullying dan antikekerasan di seluruh pesantren di
Jawa Tengah yang jumlahnya mencapai 5.451 lembaga.
"Keberadaan satgas diharapkan menjadi garda terdepan dalam menciptakan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan ramah bagi santri," kata Nawal.
Dengan jumlah santri mencapai 535.940 orang, keberadaan sistem perlindungan yang kuat dinilai penting guna mendukung kesehatan mental, pembentukan karakter, serta perlindungan terhadap perempuan dan anak di lingkungan pesantren.
Sementara itu, salah seorang peserta kegiatan, Dinara Kholidya Safina, mengaku memperoleh banyak pengetahuan baru terkait kesehatan mental dan pencegahan bullying.
Menurutnya, pemahaman mengenai batasan-batasan perundungan sangat penting bagi santri untuk menciptakan lingkungan pesantren yang lebih aman dan nyaman. (R)
beritaTerkait
komentar