Minggu, 27 September 2026

Deteksi Dini dan Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengamanan Kesehatan Jemaah Haji

Rabu, 03 Juni 2026 11:16 WIB
Deteksi Dini dan Sinergi Lintas Sektor Jadi Kunci Pengamanan Kesehatan Jemaah Haji
Wamenkes Benjamin Paulus Oktavianus saat meninjau proses debarkasi jemaah haji kloter perdana Provinsi Banten di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa (2/6/2026).

Tangerang (buseronline.com) - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Benjamin Paulus Oktavianus menegaskan bahwa penguatan deteksi dini melalui active case finding dan sinergi lintas sektor menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan jemaah haji maupun masyarakat luas.

Hal tersebut disampaikan saat meninjau proses debarkasi jemaah haji kloter perdana Provinsi Banten di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa.

Dilansir dari laman Kemkes, dalam kunjungannya, Wamenkes Benny menyoroti efektivitas skrining kesehatan ketat yang telah dilakukan sejak fase keberangkatan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta.

Menurutnya, kebijakan pembatalan keberangkatan bagi calon jemaah yang tidak memenuhi syarat kesehatan memberikan dampak signifikan terhadap penurunan angka kesakitan dan kematian jemaah haji.

"Waktu saya ke Asrama Haji Pondok Gede saat pemberangkatan, ada 14 calon jemaah haji yang dibatalkan keberangkatannya karena kondisi kesehatannya tidak baik. Buktinya, angka kesakitan dan angka meninggal turun jauh dibanding tahun-tahun sebelumnya," ujar Benny.

Ia menjelaskan, fase debarkasi menjadi tahapan penting dalam penyelenggaraan ibadah haji karena seluruh jemaah harus dipantau kesehatannya secara menyeluruh untuk mendeteksi kemungkinan penyakit menular maupun gangguan kesehatan lainnya.

Di Bandara Soekarno-Hatta, petugas kesehatan melakukan observasi visual dan pemeriksaan menggunakan thermo scanner terhadap para jemaah yang baru tiba. Jemaah yang terindikasi mengalami gangguan kesehatan langsung dibawa ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lanjutan.

"Dalam kloter ini ada enam orang yang dicek kesehatannya dan sebagian masih diobservasi karena kondisi fisik menurun akibat kelelahan," jelasnya.

Kepala Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Soekarno-Hatta Naning Nugrahini mengatakan proses active case finding dilakukan terhadap seluruh jemaah yang tiba di wilayah kerja Bandara Soekarno-Hatta.

"Petugas melakukan observasi visual untuk melihat ada tidaknya gejala seperti batuk, pilek, atau demam. Jika ditemukan gejala, jemaah langsung diarahkan ke pos kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut," kata Naning.

Ia menambahkan, kondisi kegawatdaruratan yang paling sering ditemukan pada jemaah yang baru tiba adalah serangan jantung dan sesak napas. Karena itu, BBKK Soekarno-Hatta menyiagakan tenaga kesehatan lengkap selama 24 jam untuk menangani berbagai kemungkinan kondisi darurat.

Untuk melayani kedatangan hampir 1.600 jemaah haji pada hari itu, BBKK Soekarno-Hatta menurunkan dokter spesialis kedokteran penerbangan, dokter umum, epidemiolog, perawat, sopir ambulans, hingga tenaga pendukung lainnya.

Wamenkes Benny menegaskan keberhasilan pengamanan kesehatan jemaah haji merupakan hasil kerja sama lintas sektor, mulai dari AirNav, kepolisian, Badan Karantina, otoritas bandara, hingga Angkasa Pura. "Sinergi lintas sektor ini berdampak besar terhadap penurunan kasus kesehatan secara drastis," tutupnya. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Wamenkes Dorong Gerakan Ayah Siaga untuk Dukung Kesehatan Anak
883 Calon Jemaah Haji Batang Jalani Pemeriksaan Kesehatan
Wamenkes: Indonesia Emas 2045 Harus Ditopang Penguatan Promotif dan Preventif
Kepemimpinan Kepala Daerah Jadi Kunci Transformasi Pelayanan Kesehatan Primer
Wamenkes: Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Percepatan Inovasi Kesehatan Nasional
Wamenkes: One Health Jadi Kunci Kemandirian dan Kedaulatan Kesehatan Indonesia
komentar
beritaTerbaru