Selain menjaga produksi di tengah ancaman
El Nino, program ini juga membuka peluang ekspor. Bawang merah asal Enrekang dinilai memiliki potensi menembus pasar internasional, termasuk kawasan Timur Tengah, dengan syarat konsistensi produksi tetap terjaga.
Sekretaris Daerah Kabupaten Enrekang, Zulkarnain Kara menyatakan dukungan penuh pemerintah daerah terhadap program tersebut.
"Kami menyambut baik HDDAP sebagai solusi konkret menghadapi dampak El Nino. Pemanfaatan teknologi dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci menghadapi potensi kekeringan," ujarnya.
Sementara itu, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan langkah strategis untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim. "Dengan kerja cepat dan kolaborasi yang kuat, sektor pertanian Indonesia akan tetap tangguh," kata Amran.
Di tingkat petani, program ini mendapat sambutan positif. Kadirbali, anggota Kelompok Tani Santabi, mengaku terbantu dengan berbagai dukungan yang diberikan, seperti pompanisasi, benih, dan sarana produksi.
Kementan menegaskan percepatan implementasi HDDAP pada 2026 menjadi prioritas, dengan fokus pada penguatan kelembagaan petani, penyediaan infrastruktur air, serta integrasi hulu-hilir guna meningkatkan produktivitas dan nilai tambah hortikultura di lahan kering. (R)
beritaTerkait
komentar