Enrekang (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat pengembangan hortikultura di lahan kering sebagai langkah strategis menghadapi ancaman El Nino.
Dilansir dari laman Kementan, program ini dijalankan melalui Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Melalui Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementan mendorong pembangunan kawasan hortikultura terpadu berbasis komoditas unggulan, sekaligus memperkuat sistem agribisnis dari hulu hingga hilir.
Fokus pengembangan diarahkan pada wilayah dataran tinggi dan lahan kering yang rentan terhadap keterbatasan air.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura sekaligus Project Director HDDAP, Freddy Lumban Gaol menyebutkan program ini akan dilaksanakan di 10 kecamatan di Enrekang. Komoditas yang dikembangkan meliputi bawang merah sebanyak 13 klaster dan kentang sebanyak 4 klaster.
"Kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, penyuluh, dan petani menjadi kunci dalam mendorong kemajuan sektor hortikultura menuju sistem agribisnis modern," ujar Freddy dalam rapat koordinasi di Enrekang, Selasa.
Ia menambahkan, bawang merah menjadi komoditas unggulan yang berperan besar dalam perekonomian daerah dengan nilai perputaran mencapai sekitar Rp40 triliun per tahun.
Dalam implementasinya, HDDAP juga diarahkan untuk meningkatkan kapasitas petani melalui penguatan Kelembagaan Ekonomi Petani (KEP).
Kelembagaan ini berfungsi sebagai pusat pengelolaan agribisnis terpadu, mulai dari proses budidaya, pascapanen, hingga pemasaran berbasis kualitas. Sejauh ini, progres program menunjukkan hasil positif.
Verifikasi dan validasi CPCL untuk bawang merah telah mencapai 95 persen, sementara kentang telah mencapai 100 persen.
Penyusunan dokumen Horticulture Cluster Development Plan (HCDP) juga terus dipercepat guna memastikan kelancaran pelaksanaan program.
Kementan turut mengantisipasi berbagai tantangan di lahan kering, seperti keterbatasan sumber air, ketergantungan pada musim hujan, serangan hama, serta fluktuasi harga.
Untuk itu, disiapkan berbagai intervensi seperti pengembangan irigasi pompa, pemetaan sumber air, penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT), hingga penguatan rantai pasok dan kemitraan dengan offtaker.
beritaTerkait
komentar