Rabu, 27 Mei 2026

Pengembangan Beras Rendah Karbon: Pemprov Jateng dan Uni Eropa Bersinergi

Selasa, 01 Juli 2025 12:16 WIB
Pengembangan Beras Rendah Karbon: Pemprov Jateng dan Uni Eropa Bersinergi
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi berbicara dalam pertemuan bersama Duta Besar Uni Eropa dan delegasi dari 12 negara Uni Eropa di Aula Tawangarum, Balai Kota Surakarta, Senin (30/6/2025). (Dok/Humas Jateng)
Surakarta (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan berkelanjutan dengan memperluas pengembangan beras rendah karbon (low carbon rice).

Upaya ini dilakukan melalui peningkatan kerja sama dengan negara-negara anggota Uni Eropa, yang turut menjadikan isu perubahan iklim sebagai prioritas global.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat menerima kunjungan kehormatan Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, beserta delegasi dari 12 negara Uni Eropa di Aula Tawangarum, Balai Kota Surakarta, Senin.

Delegasi tersebut berasal dari Austria, Siprus, Jerman, Belanda, Spanyol, Swedia, Belgia, Denmark, Finlandia, Lithuania, dan Polandia.

“Hari ini kita menindaklanjuti hubungan yang sudah terjalin, dan ke depan hubungan ini akan terus diperkuat,” ujar Gubernur Luthfi dalam sambutannya.

Ia menyebut, fokus dari kerja sama ini adalah mendukung swasembada pangan di Jawa Tengah melalui pendekatan produksi padi rendah karbon yang ramah lingkungan dan efisien.

Pada tahun 2024, luas tanam padi di Jawa Tengah mencapai sekitar 1,5 juta hektare, dengan hasil produksi sebesar 8,8 juta ton gabah kering giling, atau berkontribusi sekitar 16,73 persen terhadap stok pangan nasional. Pada 2025, ditargetkan hasil produksi padi meningkat hingga 11,8 juta ton.

Program low carbon rice sendiri telah diimplementasikan di Jawa Tengah sejak 2022 melalui inisiatif SWITCH-Asia Low Carbon Rice di Kabupaten Boyolali, Klaten, dan Sragen.

Program ini menghubungkan petani dengan penggilingan padi kecil dan pasar konsumen seperti restoran dan hotel, guna menciptakan ekosistem pertanian yang rendah emisi dan bernilai ekonomi tinggi.

Gubernur mencontohkan keberhasilan panen di Klaten yang mencakup 100 hektare lahan dengan potensi produksi sekitar 600 ton gabah. Program tersebut berhasil menurunkan emisi karbon hingga 80 persen, mengurangi biaya penggilingan sebesar 30–40 persen, serta meningkatkan kualitas hasil panen.

Langkah konkret lainnya dilakukan dengan mendorong transisi menuju pertanian berkelanjutan. Beberapa di antaranya adalah konversi mesin penggilingan padi dari bahan bakar solar ke energi listrik, pengurangan penggunaan pupuk kimia, serta efisiensi penggunaan air irigasi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Tengah, Dyah Lukisari, menyebut salah satu strategi perluasan program ini adalah melalui kolaborasi dengan dunia usaha melalui program CSR.

Bank Indonesia telah menjadi mitra utama dengan intervensi di enam lokasi baru, yakni di Demak, Jepara, Kudus, Kota Semarang, dan Kabupaten Semarang, dengan total investasi sekitar Rp1,8 M.

“Konversi satu mesin penggilingan dari solar ke listrik butuh dana sekitar Rp250 juta hingga Rp300 juta per titik. Itu yang kami dorong melalui kolaborasi lintas sektor,” ujar Dyah.

Lebih jauh, ia menambahkan bahwa ke depan penggunaan listrik pun akan ditinjau ulang, mengingat sumber listrik nasional masih dominan berasal dari energi fosil. Menindaklanjuti arahan Gubernur, pihaknya kini tengah mengkaji opsi penggunaan energi surya untuk penggilingan padi, dan akan segera merancang proyek percontohan.

“Nanti akan dicoba satu hingga dua pilot mesin penggilingan yang menggunakan tenaga surya. Saat ini masih dalam tahap pembahasan,” tambahnya.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Denis Chaibi, menyampaikan apresiasi atas sambutan dan keterbukaan kerja sama dari Pemprov Jateng serta Pemerintah Kota Surakarta.

Ia menegaskan bahwa kunjungan delegasi ini bertujuan untuk melihat langsung praktik pertanian rendah karbon di wilayah Soloraya dan belajar dari pengalaman Indonesia.

“Saya mewakili Uni Eropa di Indonesia hadir bersama 12 delegasi untuk belajar dari masyarakat Jawa Tengah mengenai apa yang telah dilakukan dalam hal ketahanan pangan. Kami ingin ikut terlibat dan belajar dari provinsi ini yang menjadi salah satu lumbung pangan terbesar di Indonesia, bahkan di dunia,” ujar Denis.

Kerja sama antara Pemprov Jateng dan Uni Eropa dalam pengembangan low carbon rice diharapkan mampu menjadi model inovasi pertanian berkelanjutan di tingkat nasional dan internasional, sekaligus memperkuat kontribusi Indonesia dalam agenda global pengurangan emisi karbon dan ketahanan pangan. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Pertamina Perkuat Transformasi Digital Berbasis AI, Targetkan EBITDA US$300 Juta pada 2027
Korlantas Polri Gelar Operasi Patuh 2026 Mulai 8 Juni, Fokus Penegakan Hukum Digital lewat ETLE
Uzbekistan Umumkan Skuad Sementara untuk Piala Dunia 2026
Bupati Taput Tinjau Pemulihan Infrastruktur dan Lahan Hunian Korban Bencana di Adian Koting
Presiden Prabowo Tiba di Prancis, Awali Kunjungan Resmi Kenegaraan
998 Personel Gabungan Amankan Perayaan Idul Adha di Kota Bandung
komentar
beritaTerbaru