Rabu, 27 Mei 2026

Di Tengah Perang Dagang Global, Menkeu Sri Mulyani Soroti Kekuatan ASEAN

Sabtu, 12 April 2025 12:32 WIB
Di Tengah Perang Dagang Global, Menkeu Sri Mulyani Soroti Kekuatan ASEAN
Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati (tengah), berfoto bersama para Menteri Keuangan negara anggota ASEAN saat acara ASEAN Finance Ministers’ Retreat di Kuala Lumpur, Malaysia. (Dok/Kemenkeu)
Kuala Lumpur (buseronline.com) - Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, menegaskan bahwa negara-negara di kawasan Asia Tenggara memiliki potensi besar untuk memperkuat kerja sama ekonomi regional di tengah ketegangan perang dagang global yang kian memanas.

Hal tersebut disampaikannya dalam Pertemuan Menteri Keuangan dan Gubernur Bank Sentral ASEAN (AFMGM) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 9–10 April 2025.

Dalam forum yang berada di bawah keketuaan Malaysia tersebut, Sri Mulyani menyoroti bahwa ASEAN, dengan total Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai US$ 3 T dan populasi lebih dari 650 juta jiwa, memiliki kekuatan ekonomi yang cukup besar untuk menjadi kawasan yang tangguh menghadapi tekanan global.

“ASEAN dengan ukuran ekonomi mencapai US$ 3 T dan populasi di atas 650 juta memiliki potensi untuk makin bekerjasama erat menjaga dan memperkuat ekonomi regional,” tegas Sri Mulyani.

Pertemuan dimulai dengan sesi retreat para Menteri Keuangan ASEAN untuk membahas dampak kebijakan tarif resiprokal yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Kebijakan ini menargetkan lebih dari 60 negara mitra dagang yang dinilai memiliki surplus perdagangan dengan Amerika Serikat atau dianggap mengambil keuntungan secara tidak adil dari pasar AS.

Menurut Sri Mulyani, langkah Amerika Serikat ini telah melemahkan sistem perdagangan dunia berbasis aturan (rule-based system) yang sebelumnya dibangun oleh institusi seperti WTO dan Bretton Woods pasca Perang Dunia II. Sistem ini, meski bertujuan menciptakan kemajuan bersama, dalam praktiknya turut mendorong relokasi manufaktur ke luar AS dan menciptakan pengangguran di dalam negeri.

Sebagai respons terhadap tarif dari AS, Republik Rakyat Tiongkok (RRT) mengambil langkah retaliasi dengan mengenakan tarif tandingan yang kemudian dibalas kembali oleh AS dengan kenaikan tarif lebih lanjut hingga mencapai 125%.

Kondisi ini menciptakan ketidakpastian global dan memicu perlambatan pertumbuhan ekonomi serta tekanan inflasi yang signifikan.

Para Menteri Keuangan ASEAN sepakat bahwa situasi ini harus direspons dengan strategi bersama guna menjaga stabilitas ekonomi kawasan. Dalam pertemuan tersebut, masing-masing negara anggota juga memaparkan kondisi terkini di negaranya dan mendiskusikan langkah mitigasi risiko serta strategi negosiasi yang mungkin ditempuh bersama.

Menanggapi kondisi global ini, Indonesia terus memperkuat ketahanan ekonominya melalui kebijakan deregulasi, penghapusan hambatan perdagangan, dan peningkatan iklim investasi. Di samping itu, Indonesia juga aktif melakukan diplomasi ekonomi dan negosiasi untuk melindungi kepentingan nasional.

Sri Mulyani juga mengungkapkan bahwa Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, telah memberikan instruksi kepada Tim Kabinet Merah Putih untuk menyiapkan berbagai langkah antisipatif menghadapi dampak lanjutan dari gejolak ekonomi global.

Langkah ini, lanjutnya, sejalan dengan amanat konstitusi untuk ikut serta dalam menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
PKK Jateng Dorong Penguatan Ekonomi Keluarga Lewat Program Kapulaga
Pamekasan Pecahkan Rekor MURI SAIH, Mendikdasmen Ajak Wujudkan Generasi Emas 2045
Indonesia Percepat Transformasi Pengendalian Kanker Lewat Deteksi Dini dan Kolaborasi Global
SC Paderborn 07 Promosi ke Bundesliga, VfL Wolfsburg Terdegradasi Setelah 29 Musim
FIFA dan PSSI Gelar Kampanye “Be Active” untuk Dorong Gaya Hidup Sehat Anak
Pertamina Perkuat Transformasi Digital Berbasis AI, Targetkan EBITDA US$300 Juta pada 2027
komentar
beritaTerbaru