Jumat, 19 Juni 2026

Kementan Perkuat Strategi Hadapi Kemarau 2026, Produksi Pangan Nasional Diyakini Tetap Aman

Jumat, 19 Juni 2026 12:02 WIB
Kementan Perkuat Strategi Hadapi Kemarau 2026, Produksi Pangan Nasional Diyakini Tetap Aman
Konferensi pers pemerintah bertajuk Update Program Prioritas Pemerintah di Jakarta, Rabu (17/6/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat berbagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau 2026 guna memastikan produksi pangan nasional tetap terjaga.

Dilansir dari laman Kementan, penguatan infrastruktur air, penyediaan benih unggul, modernisasi pertanian, hingga sinergi dengan pemerintah daerah menjadi strategi utama untuk menjaga keberlanjutan swasembada pangan.

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian RI Suwandi menegaskan bahwa sektor pangan merupakan fondasi penting bagi ketahanan dan kedaulatan bangsa. Karena itu, pemerintah terus berupaya menjaga produktivitas pertanian di tengah tantangan perubahan iklim.

Dalam Konferensi Pers Pemerintah bertajuk Update Program Prioritas Pemerintah di Jakarta, Rabu, Suwandi menyampaikan bahwa pemerintah menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan nasional sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

"Pangan bukan sekadar kebutuhan dasar, tetapi kebutuhan strategis bangsa. Menjaga pangan berarti menjaga kedaulatan dan masa depan negara," ujarnya.

Menurut Suwandi, Indonesia memasuki musim kemarau 2026 dengan kesiapan yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Berbagai program peningkatan produksi telah dijalankan, mulai dari optimasi lahan, cetak sawah baru, pembangunan irigasi perpompaan, penyediaan benih unggul, hingga penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan data BMKG dan satelit NOAA, kondisi iklim tahun ini tidak seberat fenomena El Nino yang terjadi pada 2015 maupun 2023.

Meski demikian, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan, terutama menjelang puncak musim kemarau pada Juli hingga September.

Sebagai langkah antisipasi, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman telah menginstruksikan seluruh pemerintah daerah untuk melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan, memperkuat sistem peringatan dini, memperbaiki jaringan irigasi, menormalisasi saluran air, serta mengoptimalkan pemanfaatan embung dan waduk.

Kementan juga terus memperbarui informasi cuaca dan iklim agar petani dapat menyesuaikan pola tanam sesuai kondisi lapangan. Selain itu, pemerintah menyediakan varietas unggul yang lebih tahan terhadap kekeringan, seperti Inpari, Inpago, Situbagendit, Situ Patenggang, Pajajaran, dan sejumlah varietas genjah lainnya.

Dalam upaya adaptasi, pemerintah mendorong penerapan teknologi hemat air, penggunaan varietas berumur pendek, serta percepatan tanam setelah panen. Jarak antara panen dan tanam kembali diupayakan tidak lebih dari 14 hari guna meningkatkan indeks pertanaman.

"Kalau selama ini tanam dua kali setahun, kita dorong menjadi tiga kali. Yang sebelumnya satu kali kita dorong menjadi dua kali. Dengan lahan yang sama, produksi bisa meningkat karena frekuensi tanamnya bertambah," kata Suwandi.

Petani juga didorong menerapkan pola tanam tumpang sari dengan komoditas seperti kacang tanah, kacang hijau, dan berbagai jenis sayuran untuk meningkatkan produktivitas lahan sekaligus menambah pendapatan.

Suwandi menilai musim kemarau tidak selalu berdampak negatif terhadap pertanian. Dengan pengelolaan air yang baik, tingginya intensitas sinar matahari justru dapat meningkatkan proses fotosintesis tanaman sehingga produktivitas berpotensi meningkat.

Untuk memperkuat mitigasi, pemerintah mengembangkan sistem irigasi perpompaan sebagai strategi utama menghadapi perubahan iklim. Pada 2026, pemerintah menyiapkan tambahan pompa yang mampu melayani sekitar satu juta hektare lahan pertanian.

Program tersebut melengkapi sistem perpompaan yang sebelumnya telah mendukung pengairan sekitar dua juta hektare lahan di berbagai wilayah.

Selain menjaga produksi, pemerintah juga memberikan perlindungan kepada petani melalui program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dengan nilai pertanggungan hingga Rp6 juta per hektare bagi lahan yang mengalami gagal panen akibat bencana.

Petani terdampak kekeringan juga akan mendapatkan bantuan benih gratis, sarana produksi, alat dan mesin pertanian, serta pendampingan percepatan tanam kembali. Untuk mendukung kesiapsiagaan nasional, pemerintah mengalokasikan sekitar 57 ribu unit pompa air dan berbagai alat mesin pertanian lainnya sepanjang 2026.

Dengan berbagai langkah tersebut, Kementerian Pertanian optimistis produksi pangan nasional tetap terjaga dan target swasembada pangan dapat terus diperkuat meski menghadapi tantangan musim kemarau. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kementan Percepat Perbenihan Nasional untuk Wujudkan Swasembada Bawang Putih
Kementan Percepat Swasembada Bawang Putih, Bangun Ekosistem dari Benih hingga Konsumsi
Kementan: Pasokan Pangan Aman, Beras Tak Lagi Jadi Penyumbang Utama Inflasi
Revitalisasi Sekolah dan Kesejahteraan Guru Jadi Fokus Pemerintah Tingkatkan Mutu Pendidikan
Kementan Lepas Enam Varietas Unggul Baru, Perkuat Daya Saing Perkebunan Nasional
Kementan Perkuat Penyerapan dan Distribusi untuk Stabilkan Harga Telur Ayam Ras
komentar
beritaTerbaru