Ia juga mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat pengawasan sektor pangan dan memberantas mafia pangan yang selama ini dinilai merugikan petani dan masyarakat.
"Jangan sampai kerja keras petani, pemerintah, dan seluruh pelaku sektor pertanian dirusak oleh praktik mafia pangan, permainan distribusi, ataupun kepentingan-kepentingan yang menghambat terwujudnya kedaulatan pangan nasional. Kita harus berdiri pada satu tujuan yang sama, yaitu mewujudkan Indonesia yang mandiri, kuat, dan berdaulat di bidang pangan," ujarnya.
Optimisme tersebut didukung berbagai capaian sektor pertanian nasional di bawah komando Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang menunjukkan tren positif meski dunia menghadapi tekanan perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi global.
Produksi nasional tercatat meningkat dari sekitar 53 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) pada 2024 menjadi 60,34 juta ton GKG pada 2025. Produksi beras nasional mencapai 34,69 juta ton atau surplus lebih dari 3,5 juta ton dibanding kebutuhan konsumsi nasional sekitar 31 juta ton.
Sepanjang 2025, Indonesia juga tidak melakukan impor beras medium, sementara Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog pada Mei 2026 mencapai 5,3 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah Indonesia.
Selain beras, sejumlah komoditas strategis seperti jagung, bawang merah, cabai, daging ayam ras, telur ayam ras, dan gula konsumsi diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan nasional dari produksi dalam negeri. Jagung pakan bahkan telah menghentikan impor sejak 2025 karena produksi nasional dinilai mencukupi kebutuhan domestik.
Penguatan sektor pertanian turut didukung berbagai kebijakan pemerintah, mulai dari pembangunan dan rehabilitasi irigasi, penyediaan pupuk subsidi, bantuan alat dan mesin pertanian, penyederhanaan regulasi pupuk, hingga penguatan pengawasan distribusi pangan bersama Satgas Pangan guna mencegah praktik penyelewengan dan mafia pangan.
Berbagai langkah tersebut mulai menunjukkan dampak positif terhadap kesejahteraan petani. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Nilai Tukar Petani (NTP) pada Maret 2026 mencapai 125,35 atau tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
Menutup pernyataannya, Ahmad Yohan menegaskan bahwa Indonesia memiliki seluruh modal yang dibutuhkan untuk mewujudkan swasembada pangan, mulai dari sumber daya alam yang melimpah, potensi lahan yang besar, petani yang tangguh, dukungan kebijakan pemerintah, hingga semangat gotong royong seluruh elemen bangsa.
"Marilah kita percaya pada kemampuan bangsa sendiri. Petani Indonesia telah membuktikan bahwa di tengah berbagai tantangan mereka tetap mampu menjaga produksi dan memastikan pangan tersedia bagi seluruh rakyat. Dengan komitmen yang kuat dan dukungan seluruh masyarakat, cita-cita
swasembada pangan bukanlah sesuatu yang mustahil, melainkan tujuan yang dapat diwujudkan demi masa depan Indonesia yang lebih berdaulat, kuat, dan sejahtera," pungkasnya. (R)
Foto
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI
Ahmad Yohan.
beritaTerkait
komentar