Sebagai tindak lanjut, sekolah mulai membentuk tim kesiapsiagaan bencana yang melibatkan kepala sekolah, guru, panitia sekolah, siswa, dan orang tua.
Pengalaman serupa disampaikan Linggana Tesya, guru SMAN 1 Candung, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Ia menilai peningkatan pemahaman kebencanaan sangat penting bagi sekolah yang berada di wilayah dengan potensi gempa bumi dan letusan gunung berapi.
Menurutnya, guru perlu memiliki pengetahuan yang memadai sebelum memberikan arahan dan bantuan kepada siswa, sehingga langkah keselamatan dapat dilakukan secara tepat ketika bencana terjadi.
Melalui pelatihan dan pengembangan modul tersebut,
Kemendikdasmen berharap budaya sadar bencana semakin berkembang di lingkungan pendidikan.
Guru dan tenaga kependidikan diharapkan mampu melindungi peserta didik, memberikan dukungan kepada warga sekolah yang terdampak, serta menjaga keberlangsungan pembelajaran selama proses pemulihan pascabencana. (R)
beritaTerkait
komentar