Semarang (buseronline.com) - Sejumlah pelajar di Kabupaten Batang dan Kota Pekalongan mendapatkan edukasi praktis mengenai keselamatan, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap lingkungan.
Dilansir dari laman Jatengprov, kegiatan tersebut menjadi upaya membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Di Kabupaten Batang, siswa SMP Negeri 2 Batang mengikuti sosialisasi keselamatan melintasi perlintasan kereta api yang disampaikan petugas Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Semarang, pada 19 Oktober 2026.
Salah seorang siswi, Lila, mengaku lebih memahami prosedur keselamatan setelah mengikuti sosialisasi tersebut. Pasalnya, rumahnya di Petodanan Baru mengharuskannya melewati perlintasan kereta api.
"Rumah saya di Petodanan Baru yang mengharuskan melewati perlintasan kereta api. Biasanya kalau berangkat diantar orang, walau sempat sedikit cemas, tapi setelah ada sosialisasi ini, jadi lebih paham dengan slogan 'Berteman', artinya Berhenti, Tengok Kanan Kiri, Aman lalu Jalan," ujarnya seusai mengikuti pelatihan.
Kepala SMP Negeri 2 Batang, Moehamad Santoso, mengatakan edukasi tersebut sangat bermanfaat bagi siswa, mengingat lokasi sekolah tidak jauh dari perlintasan kereta api.
Menurutnya, masih terdapat kekhawatiran terhadap perilaku siswa yang belum sepenuhnya memahami risiko saat melintasi jalur kereta api.
"Memang sedikit ada kecemasan karena anak-anak sering belum begitu memahami ketika lewat di perlintasan, kadang menerobos tanpa memperhatikan risikonya. Semoga sosialisasi ini menjadikan mereka lebih paham dan waspada ketika melewati perlintasan kereta api," ungkapnya.
Sementara itu, di Kota Pekalongan, siswa SMK Negeri 3 Pekalongan mendapatkan edukasi mengenai pencegahan perundungan, penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, kedisiplinan, penghormatan kepada orang tua dan guru, serta ketertiban berlalu lintas.
Kapolsek Pekalongan Barat, Kompol Miyardi, mengajak para siswa membangun kebiasaan positif dan memanfaatkan masa sekolah untuk belajar serta mengembangkan potensi diri.
"Jadilah generasi emas, bukan generasi cemas. Tetap semangat, terus belajar, dan raih prestasi. Hindari narkoba, patuhi orang tua dan guru, serta selalu tertib berlalu lintas," pesannya.
Kepala SMK Negeri 3 Pekalongan, Sukowati, menilai kegiatan tersebut menjadi bekal penting bagi siswa untuk memahami konsekuensi dari setiap tindakan, sekaligus menjaga hubungan baik di lingkungan sekolah.
Ia berharap edukasi tersebut mampu mendorong siswa menjauhi perilaku negatif, saling menghormati, dan menjaga kerukunan.
Di tempat terpisah, sebanyak 32 siswa SMA Negeri 2 Pekalongan mengikuti pelatihan pembuatan kompos dari daun kering di kebun sekolah melalui program Sekolah Iklim, pada 19 Oktober 2026.
Salah seorang peserta, Syafiq Amjad Ikhwanushofa, menjelaskan bahwa daun kering yang banyak ditemukan di lingkungan sekolah dapat dimanfaatkan menjadi kompos sehingga tidak perlu dibakar.
"Di SMA Negeri 2 banyak sekali daun kering. Jadi, kami manfaatkan untuk membuat kompos agar tidak dibakar. Prosesnya sebenarnya cukup mudah, meskipun membutuhkan waktu," jelasnya.
Menurut Amjad, kompos yang dihasilkan nantinya dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di sekolah. Selain itu, pengolahan kompos juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut melalui kelompok peduli lingkungan yang mengelola pembuatan kompos, perawatan tanaman, dan penghijauan sekolah.
"Dengan begitu, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan warga sekolah," tukasnya.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Negeri 2 Pekalongan, Agus Sulistyanto, mengatakan kegiatan tersebut memberikan bekal kepada siswa untuk melakukan aksi nyata dalam pengelolaan sampah.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, pelajar diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga mampu menerapkan perilaku aman, disiplin, bertanggung jawab, serta peduli terhadap lingkungan. (R)
beritaTerkait
komentar