"Di SMA Negeri 2 banyak sekali daun kering. Jadi, kami manfaatkan untuk membuat kompos agar tidak dibakar. Prosesnya sebenarnya cukup mudah, meskipun membutuhkan waktu," jelasnya.
Menurut Amjad, kompos yang dihasilkan nantinya dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman di sekolah. Selain itu, pengolahan kompos juga berpotensi dikembangkan menjadi produk bernilai jual.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut melalui kelompok peduli lingkungan yang mengelola pembuatan kompos, perawatan tanaman, dan penghijauan sekolah.
"Dengan begitu, kepedulian terhadap lingkungan tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan warga sekolah," tukasnya.
Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMA Negeri 2 Pekalongan, Agus Sulistyanto, mengatakan kegiatan tersebut memberikan bekal kepada siswa untuk melakukan aksi nyata dalam pengelolaan sampah.
Melalui berbagai kegiatan tersebut, pelajar diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan di dalam kelas, tetapi juga mampu menerapkan perilaku aman, disiplin, bertanggung jawab, serta peduli terhadap lingkungan. (R)
beritaTerkait
komentar