Minggu, 06 September 2026

Wagub Jateng Usulkan Pendidikan Vokasi Dimulai Sejak Jenjang SMP

Sabtu, 18 Juli 2026 17:36 WIB
Wagub Jateng Usulkan Pendidikan Vokasi Dimulai Sejak Jenjang SMP
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat membuka The 8th ICVEAST 2026 yang diselenggarakan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Universitas Diponegoro di Hotel Gumaya Semarang, Kamis (16/7/2026).

Semarang (buseronline.com) - Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengusulkan agar pendidikan vokasi di Indonesia mulai dikenalkan sejak jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) guna membantu peserta didik mengenali potensi dan menentukan arah pengembangan kompetensi sejak dini.

Usulan tersebut disampaikan Taj Yasin saat membuka The 8th International Conference on Vocational Education Applied Science and Technology (ICVEAST) 2026 yang diselenggarakan Universitas Indonesia bekerja sama dengan Universitas Diponegoro di Hotel Gumaya Semarang, Kamis.

"Kalau kita bicara tentang vokasi, harusnya tidak dimulai dari SMK, akan tetapi di bawahnya, yaitu di jenjang SMP," kata Taj Yasin dilansir dari laman Jatengprov.

Menurutnya, pengenalan pendidikan vokasi sejak dini akan memberikan ruang lebih luas bagi peserta didik untuk mengenali bakat dan minatnya. Dengan demikian, saat memasuki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), siswa telah memiliki arah pengembangan kompetensi yang lebih jelas.

Taj Yasin menilai konsep tersebut sebenarnya telah mulai diterapkan di lingkungan madrasah melalui keberadaan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Sains di bawah Kementerian Agama yang memperkuat pembelajaran sains dan teknologi sejak jenjang pendidikan menengah pertama.

"Harusnya ada SMP-SMP yang juga mengarah ke vokasi, sehingga bisa berkesinambungan dengan SMK," ujarnya.

Selain dimulai sejak dini, pendidikan vokasi, kata dia, juga harus memiliki jalur yang berkelanjutan hingga perguruan tinggi. Menurutnya, tiga tahun pendidikan di SMK baru menjadi tahap pengenalan sehingga pendalaman kompetensi perlu dilanjutkan melalui pendidikan diploma maupun sarjana terapan.

"Vokasi itu tidak selesai di jenjang SMK, harus dilanjutkan. Tiga tahun di SMK itu sebenarnya baru tahap pengenalan," katanya.

Ia juga mendorong pemerintah, perguruan tinggi, dan berbagai lembaga untuk memperluas akses beasiswa bagi lulusan SMK, terutama yang berasal dari keluarga kurang mampu, agar memiliki kesempatan meningkatkan kompetensi.

Menurut Taj Yasin, orientasi pendidikan vokasi juga perlu bergeser. Lulusan tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja, tetapi juga didorong menjadi pencipta solusi melalui penguasaan teknologi dan inovasi.

"Mindset-nya sudah bukan lagi kita menjadi pegawai atau buruh, akan tetapi bagaimana kita menciptakan sesuatu yang benar-benar bermanfaat," ujarnya.

Sementara itu, Wakil Rektor IV Universitas Diponegoro Wijayanto mengatakan sejumlah negara seperti Jerman dan Belanda telah menerapkan pemetaan bakat sejak usia sekolah untuk mengarahkan peserta didik ke jalur akademik maupun vokasi sesuai potensinya.

Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi referensi bagi Indonesia dalam memperkuat pendidikan vokasi sejak jenjang pendidikan yang lebih awal sehingga pendidikan vokasi tidak lagi dipandang sebagai pilihan kedua. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Produksi Padi Jateng Capai 6,69 Juta Ton, Target 10,5 Juta Ton Optimistis Tercapai
Pemprov Jateng Gandeng Enam UIN, Dorong Program Berbasis Kesejahteraan Masyarakat
Pemprov Jateng dan PODSI Perkuat Pembinaan Atlet Dayung
Kompolnas Visitasi Kompolnas Awards 2026, Soroti Inovasi Bhabinkamtibmas di Jateng
CJIBF 2026 di Jakarta Catat Potensi Investasi Rp19,07 Triliun
PLTS Terapung Gajah Mungkur Dibangun, Ditargetkan Beroperasi Akhir 2027
komentar
beritaTerbaru