Jumat, 24 April 2026

Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Preeklamsia Berbasis Teknologi untuk Tekan AKI

Jumat, 24 April 2026 14:50 WIB
Kemenkes Perkuat Deteksi Dini Preeklamsia Berbasis Teknologi untuk Tekan AKI
Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Selasa (21/4/2026).

Jakarta (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) memperkuat upaya deteksi dini preeklamsia berbasis teknologi sebagai langkah strategis menekan angka kematian ibu (AKI) di Indonesia, bertepatan dengan peringatan Hari Kartini.

Dilansir dari laman Kemkes, komitmen tersebut ditegaskan dalam kegiatan Sosialisasi dan Deteksi Dini Preeklamsia yang digelar di Auditorium Siwabessy, Gedung Kemenkes RI, Jakarta, Selasa.

Kegiatan ini melibatkan lebih dari 150 peserta, termasuk ibu hamil dari sejumlah puskesmas di DKI Jakarta, serta terhubung secara daring dengan pemeriksaan serentak di Kabupaten Garut yang disiarkan dari Puskesmas Cikelabs dan Cikajang.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan pemerintah menargetkan penurunan AKI secara agresif hingga mencapai 40 per 100.000 kelahiran hidup dalam lima tahun ke depan.

"Kita tidak hanya menargetkan penurunan, tetapi penurunan yang agresif. Dari 140, dalam lima tahun ke depan kita harus bisa mencapai 40. Kita harus berani menetapkan target ambisius dan bekerja lebih keras, lebih cerdas, serta lebih tepat," ujarnya.

Saat ini, AKI di Indonesia masih berada pada angka 140 per 100.000 kelahiran hidup, lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara di kawasan seperti Thailand dan Malaysia.

Preeklamsia dan eklamsia menjadi penyebab kematian ibu terbesar kedua, dengan kontribusi sekitar 25 persen dari total kasus.

Sebagai respons, Kemenkes menggandeng mitra strategis seperti Queenrides, Telecheksam Indonesia, dan Indonesia Prenatal Institute untuk menghadirkan inovasi deteksi dini berbasis Internet of Medical Things (IoMT) dan kecerdasan buatan (AI).

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Maria Endang Sumiwi, menjelaskan bahwa inovasi tersebut kini dilengkapi dengan pemeriksaan ultrasonografi (USG) pada arteri uterina dan arteri oftalmik guna meningkatkan akurasi skrining.

"Dari hasil awal yang sudah dilakukan, tingkat deteksi meningkat hingga 50 persen. Jika sebelumnya dari empat kasus terdeteksi, dengan tambahan USG ini bisa menjadi enam kasus," jelasnya.

Sementara itu, Founder dan CEO Queenrides, Iim Fahima Jachya menyoroti bahwa preeklamsia bukan hanya persoalan klinis, tetapi juga berkaitan dengan sistem layanan dan akses terhadap teknologi kesehatan.

"Satu fakta yang tidak banyak diketahui, Ibu Kartini meninggal karena preeklamsia, dan itu terjadi satu abad lalu. Hingga hari ini, kondisi tersebut masih menjadi penyebab kematian terbesar kedua pada ibu hamil di Indonesia. Ini menunjukkan perlunya perbaikan sistem dan pemanfaatan teknologi untuk melindungi ibu dan bayi," ujarnya.

Sejak 2022, Kemenkes telah mendistribusikan perangkat USG ke 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia guna memastikan layanan deteksi dini dapat diakses secara merata, termasuk di wilayah terpencil.

Dengan langkah ini, pemerintah berharap deteksi dini preeklamsia dapat dilakukan lebih cepat dan akurat, sehingga risiko komplikasi hingga kematian ibu dan bayi dapat ditekan secara signifikan. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Topping Off Gedung Harapan Kita-Tokushukai, Perkuat Layanan Jantung Berkelas Dunia
Kemenkes Terapkan Label “Nutri Level” pada Pangan Siap Saji, Fokus Tekan Konsumsi GGL Berlebih
Kemenkes RI Gandeng IUHW Jepang, Perkuat Pendidikan Dokter Spesialis
Relawan TCK Kemenkes Sediakan Layanan Kesehatan Gratis bagi Pengungsi di Huntara
Antisipasi Gigitan Ular, Kemenkes Sediakan Antibisa bagi Masyarakat Baduy
Jelang Pergantian Tahun, Sekjen Kemenkes Kunjungi Baduy dan Adakan Cek Kesehatan Gratis
komentar
beritaTerbaru