LGarut (buseronline.com) - Upaya meningkatkan akses layanan kesehatan, khususnya layanan kesehatan paru dan penanganan Tuberkulosis (TB), semakin diperkuat dengan diresmikannya Klinik Utama Rotinsulu Dr H A Rotinsulu Garut.
Peresmian dilakukan oleh Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan RI, Azhar Jaya, bersama Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Garut, Nurdin Yana, pada Kamis di halaman klinik yang berlokasi di Jalan Pembangunan, Tarogong Kidul, Garut.
Dalam sambutannya, Dirjen Kesehatan Lanjutan Kemenkes RI, Azhar Jaya, menilai kehadiran klinik ini merupakan langkah strategis dalam memperluas layanan kesehatan daerah, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan penanganan penyakit paru.
“Ke depan kalau memang dibutuhkan, dan masyarakat banyak yang berobat di klinik ini, bisa saja menjadi suatu rumah sakit. Tapi kita lihat dulu. Yang jelas, ini kita bangun sebagai klinik utama, di atasnya tentu rumah sakit,” ujar Azhar.
Ia menegaskan, pembangunan klinik ini sejalan dengan penguatan peran pemerintah daerah dalam menyediakan layanan yang sesuai kebutuhan masyarakat. Azhar juga menyampaikan arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, untuk mempercepat penanggulangan tiga penyakit prioritas nasional, termasuk Tuberkulosis.
Menurutnya, upaya eliminasi TB harus dilakukan melalui penemuan kasus secara agresif, memastikan kepatuhan pengobatan, serta memperkuat peran Pendamping Minum Obat (PMO).
“Kita harus pastikan masyarakat tidak menjauhi pasien TB yang sudah menjalani pengobatan. Kalau sudah dua minggu diobati, sebenarnya sudah tidak menular lagi,” tegasnya.
Sekda Kabupaten Garut, Nurdin Yana, menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap pengembangan Klinik Utama Rotinsulu menjadi rumah sakit di masa depan. Garut dengan jumlah penduduk sekitar 2,8 juta jiwa, menurutnya, masih kekurangan fasilitas rujukan, khususnya ketersediaan tempat tidur rumah sakit.
“Melihat persebaran penyakit di Garut, harapan kami kalau ini jadi rumah sakit tentu pemangku kepentingan lainnya akan bertambah. Sehingga akan berbagi tugas,” ujar Nurdin.
Ia juga menilai perluasan klinik menjadi rumah sakit dapat memperkuat layanan spesialis paru sekaligus membantu upaya menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) di Garut, yang hingga kini masih cukup tinggi.
“Tentu dengan catatan melebarkan wilayah, ada sekitar 3 hektare di belakang. Masyarakat kami siap diayomi,” tambahnya.
Direktur Utama RS Paru Dr H A Rotinsulu, drg Tri Fajari Agustini, menegaskan bahwa pembangunan Klinik Utama Rotinsulu Garut merupakan komitmen bersama dalam memperkuat layanan paru yang unggul dan terintegrasi.
“Kami bertekad menyelesaikan pembangunan Klinik Utama Garut. Kolaborasi ini memperkuat komitmen menghadirkan layanan paru unggul sebagai bagian dari program eliminasi TBC cepat. Pada 2029 kami ditargetkan 50 persen eliminasi TBC dapat dituntaskan,” jelasnya.
Tri Fajari juga memaparkan capaian positif layanan klinik, termasuk keberhasilan pengobatan TB yang mencapai 97 persen pada 2024—menunjukkan efektivitas pendampingan dan kedekatan layanan kepada pasien.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, Leli Yuliani, menambahkan bahwa kolaborasi erat antara Klinik Rotinsulu, puskesmas, dan komunitas TB telah membuahkan hasil signifikan. Tahun ini, Dinkes Garut meraih penghargaan dari Gubernur Jawa Barat untuk notifikasi terbaik TBC dan kolaborasi klinik terbaik.
“Terus terang kami sangat bahagia sekali dengan bertambahnya fasilitas rujukan di Kabupaten Garut,” ujarnya.
Klinik ini menyediakan layanan poli umum, poli penyakit dalam, poli penyakit paru, poli patologi anatomi, radiologi, laboratorium, serta layanan kesehatan lainnya.
Adapun jam operasional sebagai berikut:
Jam Pendaftaran Pasien: Senin–Jumat pukul 07.30–12.30
Jam Pelayanan Pasien:
Senin–Kamis: pukul 07.30–16.00
Jumat: pukul 07.30–16.30
Dengan peresmian ini, Pemerintah Kabupaten Garut berharap masyarakat semakin mudah mengakses layanan paru yang komprehensif dan terjangkau. (R)
beritaTerkait
komentar