Sabtu, 01 Agustus 2026

Kota Bogor Diusulkan Jadi Percontohan Nasional Penanggulangan TBC

Sabtu, 01 Agustus 2026 09:36 WIB
Kota Bogor Diusulkan Jadi Percontohan Nasional Penanggulangan TBC
Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus, saat meluncurkan program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC yang terintegrasi dengan CKG SMART di Kota Bogor, Selasa (28/7/2026).

Bogor (buseronline.com) - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengusulkan Kota Bogor sebagai daerah percontohan nasional dalam program penanggulangan Tuberkulosis (TBC).

Dilansir dari laman Kemkes, usulan tersebut muncul setelah Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor berhasil membentuk Kelurahan Siaga TBC di seluruh 68 kelurahan yang ada di wilayahnya.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri Kesehatan RI Benjamin Paulus Octavianus, saat meluncurkan program Penemuan Kasus Aktif (Active Case Finding) TBC yang terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis (CKG) SMART di Kota Bogor, Selasa.

"Saya mendengar seluruh kelurahan di Kota Bogor sudah menjadi Kelurahan Siaga TBC. Ini luar biasa dan jarang ada. Karena itu, saya ingin Kota Bogor dapat menjadi percontohan nasional," ujar Benjamin.

Menurutnya, strategi penanggulangan TBC kini harus beralih dari pendekatan pasif menjadi aktif. Pemerintah daerah bersama puskesmas, aparat kewilayahan, dan kader kesehatan diminta melakukan penelusuran langsung terhadap masyarakat yang berisiko, terutama mereka yang memiliki kontak erat dengan pasien TBC.

Melalui integrasi dengan program CKG SMART, masyarakat dapat menjalani skrining kesehatan, pemeriksaan rontgen dada (X-ray), hingga tes dahak jika ditemukan indikasi TBC. Selain itu, Kemenkes juga akan memberikan Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) kepada warga berisiko tinggi yang belum menderita TBC aktif.

"Selama ini kita fokus mengobati orang yang sudah sakit, tetapi kontak eratnya jarang diperiksa. Padahal, daripada dua atau tiga tahun lagi mereka menjadi pasien TBC, lebih baik kita cegah dari sekarang melalui TPT," katanya.

Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menyambut baik dukungan Kemenkes tersebut. Ia mengatakan, meski Kota Bogor memiliki angka harapan hidup yang tinggi, kepadatan penduduk masih menjadi tantangan dalam pengendalian penyakit menular.

"Kehadiran program eliminasi TBC dari Kemenkes ini sangat berarti. Kami berharap kolaborasi ini dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Kota Bogor," ujar Dedie.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, Erna Nuraena, mengungkapkan bahwa pada 2025 Kota Bogor menempati peringkat kelima dengan beban TBC tertinggi di Jawa Barat. Tercatat sebanyak 10.577 kasus dengan incidence rate mencapai 955 per 100.000 penduduk.

Menurut Erna, hanya 62 persen pasien TBC yang dirawat merupakan warga Kota Bogor, sedangkan 35 persen berasal dari Kabupaten Bogor dan tiga persen dari luar daerah. Kondisi tersebut menjadikan Kota Bogor sebagai daerah rujukan layanan TBC, namun sekaligus menambah tantangan dalam pemantauan pasien lintas wilayah.

Untuk menekan angka kasus, Pemkot Bogor akan melaksanakan pelacakan TBC terintegrasi mulai Agustus hingga November 2026. Program tersebut menargetkan 23.200 orang di 232 titik yang tersebar di seluruh 68 kelurahan.

Hingga 26 Juli 2026, capaian penemuan kasus TBC di Kota Bogor telah mencapai 71,9 persen dari target 90 persen. Kemenkes berharap pelaksanaan penemuan kasus aktif secara masif dapat mempercepat upaya eliminasi TBC dan menurunkan angka kasus secara nasional pada 2028 hingga 2029. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Gubernur Sumut Perintahkan Penanganan Cepat Pasien Tumor Ganas di Nias Selatan
Wamenkes: Kolaborasi Lintas Sektor Kunci Percepatan Inovasi Kesehatan Nasional
Wamenkes: One Health Jadi Kunci Kemandirian dan Kedaulatan Kesehatan Indonesia
CKG Jangkau 59,6 Juta Peserta, Kini Berlanjut ke Tahap Pengobatan Penyakit Kronis
Capaian Program Cek Kesehatan Gratis di Rembang Capai 42,49 Persen
Pemerintah Perkuat Pencegahan dan Penanganan Stroke melalui Program Cek Kesehatan Gratis
komentar
beritaTerbaru