Kamis, 09 Juli 2026

Wakapolri Tinjau Rikkes Spesialistik Taruna Akpol 2026, Pastikan Seleksi Berbasis Teknologi Medis Modern

Kamis, 09 Juli 2026 11:52 WIB
Wakapolri Tinjau Rikkes Spesialistik Taruna Akpol 2026, Pastikan Seleksi Berbasis Teknologi Medis Modern
Wakapolri Komjen Pol Prof Dr Dedi Prasetyo SH MHum MSi MM meninjau langsung pelaksanaan Rikkes Spesialistik seleksi tingkat pusat Penerimaan Taruna dan Taruni Akpol Tahun Anggaran 2026 di Gedung Serbaguna Akpol, Lemdiklat Polri, Semarang.

Semarang (buseronline.com) - Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) Komjen Pol Prof Dr Dedi Prasetyo SH MHum MSi MM meninjau langsung pelaksanaan Pemeriksaan Kesehatan (Rikkes) Spesialistik seleksi tingkat pusat (Panpus) Penerimaan Taruna dan Taruni Akademi Kepolisian (Akpol) Tahun Anggaran 2026 di Gedung Serbaguna Akpol, Lemdiklat Polri, Semarang.

Dilansir dari laman Humas Polri, peninjauan tersebut dilakukan bersama Kalemdiklat Polri Komjen Pol Drs RZ Panca Putra S MSi, Gubernur Akpol Irjen Pol Daniel Tahi Monang Silitonga SH MA, Karokespol Pusdokkes Polri Brigjen Pol Dr dr I Gusti Gede Maha Andikajaya SH MM MHKes SpRad MKes, serta Karodalpers SSDM Polri Brigjen Pol Erthel Stephan SH SIK MSi.

Pengawasan dilakukan untuk memastikan seluruh tahapan pemeriksaan kesehatan berjalan profesional, transparan, dan akuntabel dengan memanfaatkan teknologi kedokteran terbaru guna menghasilkan proses rekrutmen yang semakin akurat, objektif, dan berbasis bukti ilmiah (evidence-based).

Sebanyak 409 calon taruna dan taruni mengikuti Rikkes Spesialistik dari total 410 peserta yang berhak mengikuti seleksi tingkat pusat. Satu peserta dilaporkan mengundurkan diri sebelum pelaksanaan pemeriksaan.

Para peserta menjalani pemeriksaan melalui 12 stasiun spesialistik yang meliputi pemeriksaan mata, Telinga Hidung Tenggorokan (THT), gigi dan mulut, saraf, komposisi tubuh, bedah atau fisik, penyakit dalam, jantung, obstetri dan ginekologi (Obgyn), radiologi dan paru, kulit, serta pemeriksaan kepadatan tulang atau Bone Mineral Density (BMD).

Dalam peninjauannya, Wakapolri memberikan perhatian khusus terhadap pemanfaatan teknologi medis modern yang digunakan Pusdokkes Polri. Salah satunya adalah penggunaan Heart Rate Variability (HRV) untuk menganalisis irama dan ketahanan jantung peserta secara lebih komprehensif. Ia juga menginstruksikan agar pemeriksaan jantung dilakukan tidak hanya dalam kondisi istirahat, tetapi juga setelah aktivitas fisik guna mengevaluasi kemampuan jantung menghadapi beban selama pendidikan.

Selain itu, Wakapolri meninjau penggunaan alat Bone Mineral Density (BMD) berbasis digital untuk mengukur kepadatan tulang calon taruna dan taruni. Pemeriksaan ini menjadi langkah preventif dalam mendeteksi risiko patah tulang dan cedera muskuloskeletal sejak dini.

Pemeriksaan kapasitas paru melalui VO₂ Max juga menjadi perhatian guna memastikan kekuatan fungsi pernapasan dan daya tahan fisik peserta. Seluruh instrumen kesehatan berbasis digital tersebut diharapkan menjadi landasan pengambilan keputusan yang objektif, akurat, dan berbasis bukti ilmiah.

Karokespol Pusdokkes Polri, Brigjen Pol Dr dr I Gusti Gede Maha Andikajaya menjelaskan bahwa pemeriksaan kesehatan spesialistik pada seleksi Taruna Akpol kini mengintegrasikan teknologi kedokteran modern untuk meningkatkan akurasi diagnosis sekaligus kualitas pengambilan keputusan.

"Melalui pemeriksaan Heart Rate Variability (HRV), tim dokter dapat mengevaluasi respons fisiologis jantung dan kemampuan adaptasi tubuh terhadap beban fisik. Pemeriksaan Bone Mineral Density (BMD) memberikan gambaran objektif mengenai kepadatan tulang untuk mengidentifikasi risiko cedera sejak dini, sedangkan VO₂ Max mengukur kapasitas aerobik dan daya tahan kardiopulmoner peserta," ujarnya.

Wakapolri juga menekankan pentingnya pemeriksaan ketat terhadap riwayat penyakit bawaan maupun gangguan saraf, seperti epilepsi, agar dapat terdeteksi sejak awal proses seleksi. Khusus bagi calon taruni, ia menginstruksikan agar dilakukan pemeriksaan ulang obstetri dan ginekologi (Obgyn) pada hari ke-16 hingga ke-20 setelah pengumuman kelulusan sebagai langkah preventif.

Menurut Wakapolri, modernisasi instrumen kesehatan merupakan investasi penting dalam membangun sistem rekrutmen Polri yang semakin presisi, transparan, dan mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul sejak tahap seleksi.

Melalui pengawasan langsung terhadap pelaksanaan Rikkes Spesialistik ini, Polri menegaskan komitmennya untuk mewujudkan proses rekrutmen yang Bersih, Transparan, Akuntabel, dan Humanis (BETAH), sekaligus memperkuat implementasi scientific policing sejak tahap seleksi guna melahirkan perwira-perwira muda yang sehat, tangguh, dan berintegritas. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Kapolri Serahkan Bantuan Peralatan Karhutla untuk Perkuat Kesiapsiagaan Polda Riau
Polri Tetapkan 32 Tersangka Kasus Pelanggaran Haji dan Umrah, Kerugian Korban Capai Rp116,7 Miliar
Tiga Personel Satresnarkoba Polres Katingan Gugur Saat Bertugas, Kapolri Berikan Kenaikan Pangkat Luar Biasa Anumerta
FK USU Perkuat Layanan Kesehatan di Nias Utara, Dokter PPDS Hadapi Tantangan Minim Fasilitas
Densus 88 Gelar Kampanye Cegah Intoleransi, Radikalisme, dan Terorisme di CFD Makassar
Polri Raih Penghargaan dari Kementerian Haji dan Umrah RI atas Dukungan Penyelenggaraan Haji 2026
komentar
beritaTerbaru