Rabu, 10 Juni 2026

Perkembangan Bencana dan Tindakan Penanggulangan per 31 Juli 2025

Jumat, 01 Agustus 2025 02:27 WIB
Perkembangan Bencana dan Tindakan Penanggulangan per 31 Juli 2025
Tim gabungan melakukan penyemprotan air untuk memadamkan api di lokasi kebakaran lahan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Provinsi Kalimantan Timur, Rabu (30/7/2025). (Dok/BPBD Kabupaten Penajam Paser Utara)
Jakarta (buseronline.com) - Sejumlah kejadian bencana alam kembali terjadi di berbagai wilayah Indonesia menjelang akhir Juli 2025. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merangkum perkembangan situasi dan penanganan bencana hingga Kamis (31/7/2025) pukul 07.00 WIB, yang didominasi oleh peristiwa kebakaran lahan dan krisis air bersih akibat kemarau panjang.

Pada Rabu (30/7/2025), kebakaran lahan melanda dua wilayah di Kalimantan Selatan, yakni Kota Banjar Baru dan Kabupaten Hulu Sungai Tengah. Total luas area terdampak diperkirakan mencapai 5 hektar, dengan titik terparah berada di Kelurahan Sei Tiung, Kecamatan Cempaka.

Di Kota Banjar Baru, api juga melahap lahan di Kelurahan Landasan Ulin, Kecamatan Liang Anggang, meskipun hanya seluas 0,001 hektar. Sementara di Kabupaten Hulu Sungai Tengah, api membakar lahan di Kelurahan Barabai Timur dengan luas 0,01 hektar.

BPBD Kalimantan Selatan bersama pemadam kebakaran dan warga setempat langsung melakukan upaya pemadaman menggunakan satu unit water supply berkapasitas 4.000 liter. Seluruh titik api berhasil dipadamkan dalam waktu singkat. Saat ini, pemantauan pasca-kebakaran masih berlangsung untuk menghindari potensi munculnya titik api baru.

Peristiwa serupa juga terjadi di Desa Sungai Parit, Kecamatan Penajam, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Kebakaran yang terjadi pada pukul 12.21 WITA itu menghanguskan lahan seluas 1,3 hektar. Diduga kuat, kebakaran dipicu oleh kemarau panjang dan cuaca ekstrem.

BPBD setempat bekerja sama dengan berbagai instansi melakukan pemadaman dengan melibatkan armada dari BPBD, Dinas Damkar, Dinas Pertanian, dan Polres setempat. Mobil tangki dan water cannon dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman.

Kebakaran berhasil ditanggulangi tanpa menimbulkan korban jiwa. Pendinginan dan monitoring lanjutan terus dilakukan guna mencegah kebakaran susulan.

Wilayah Kalimantan Utara turut terdampak kebakaran lahan. Insiden terjadi di Desa Wonomulyo, Kecamatan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan, pada Rabu dini hari (30/7/2025) sekitar pukul 02.30 WITA.

Api dengan cepat menyebar dari bagian bawah lahan kosong ke area lereng dan puncak gunung karena angin kencang dan kondisi vegetasi kering. Luas lahan terdampak mencapai 1,5 hektar, terdiri dari semak belukar dan lahan terbuka.

BPBD Bulungan bersama tim gabungan dari Polresta, Manggala Agni, masyarakat peduli api, dan relawan lokal berhasil memadamkan api dalam waktu sekitar 16 jam. Operasi pemadaman melibatkan mobil tangki air, pompa gendong, alat pemukul api (gepyok), serta sejumlah peralatan taktis lainnya. Api berhasil dipadamkan total pada pukul 18.30 WITA, dan area kebakaran disisir untuk memastikan tidak ada bara yang tersisa.

Selain kebakaran, bencana kekeringan mulai dirasakan di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Sejak Selasa (29/7/2025), debit air menurun drastis di Dusun Borangan, Desa Candirejo, Kecamatan Pringapus. Akibatnya, sekitar 70 Kepala Keluarga atau 210 jiwa mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.

BPBD Kabupaten Semarang merespons cepat dengan mengirimkan dua unit truk tangki yang membawa total 10.000 liter air bersih. Air bersih tersebut berasal dari dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Semarang.

Langkah ini diambil sebagai tindakan tanggap darurat sekaligus antisipasi terhadap potensi kekeringan yang lebih parah. BPBD juga tetap melakukan pemantauan situasi dan bersiap menyalurkan bantuan tambahan jika diperlukan.

Menanggapi maraknya kejadian bencana di musim kemarau ini, BNPB mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Masyarakat diminta tidak membakar lahan secara terbuka dan melaporkan tanda-tanda kebakaran atau kekeringan ekstrem ke aparat atau posko bencana terdekat.

BNPB juga mengingatkan pemerintah daerah agar memperkuat deteksi dini, menyiapkan cadangan air bersih, serta mengaktifkan sistem respons cepat di wilayah-wilayah rawan.

Musim kemarau yang masih berlangsung diprediksi akan meningkatkan risiko bencana serupa dalam waktu dekat. Oleh karena itu, kolaborasi antara masyarakat dan pemerintah sangat penting untuk meminimalisir dampak serta mempercepat penanganan. (R)
Editor
: Agie HT Bukit SH
beritaTerkait
Presiden Prabowo Resmikan RSUD KH Muhammad Thohir Krui, Perkuat Layanan Kesehatan di Daerah
Presiden Prabowo Disambut Antusias Warga Saat Kunjungan Kerja ke Pesisir Barat Lampung
Gerakan Sekolah ASRI dan Penanaman Mangrove Perkuat Karakter Peduli Lingkungan
Polri Siapkan Posko Khusus untuk Permudah Pengurusan Dokumen Korban Kebakaran Kemayoran
Polri dan PLN Perkuat Pengamanan Jantung Kelistrikan Jateng-DIY Melalui Bintek Sistem Manajemen Pengamanan
KPK Tahan Dua Tersangka Kasus Korupsi Kuota Haji, Negara Rugi Rp622 Miliar
komentar
beritaTerbaru