Jakarta (buseronline.com) - Kepala Operasi Damai Cartenz, Brigjen Pol Dr Faizal Ramadhani SSos SIK MH menegaskan bahwa situasi keamanan di Papua saat ini masih tergolong kondusif dan terkendali, meskipun sejumlah wilayah masih memiliki tingkat kerawanan yang tinggi akibat aktivitas Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
Hal tersebut disampaikannya dalam forum silaturahmi bersama media yang digelar di Jakarta, Rabu, didampingi Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz, Kombes Pol Yusuf Sutejo SIK MT.
“Sampai saat ini situasi di Papua masih dalam kondisi kondusif. Memang ada dinamika dan kerawanan, tetapi seluruhnya masih dalam kendali kami,” ujar Brigjen Faizal di hadapan awak media.
Lebih lanjut, Kaops Damai Cartenz menekankan bahwa penanganan konflik dan keamanan di Papua tidak bisa dibebankan hanya kepada Polri dan TNI semata, melainkan harus menjadi bagian dari kerja kolektif seluruh pemangku kepentingan, termasuk pemerintah pusat dan daerah, lembaga sosial, hingga tokoh adat dan agama.
“Polri tidak mungkin berdiri sendiri. Penanganan Papua harus menjadi kerja bersama yang melibatkan pendekatan keamanan, sosial, ekonomi, dan pembangunan,” tegasnya.
Dijelaskan Faizal, pihaknya memetakan bahwa aktivitas KKB tersebar di sekitar 14 kabupaten, dengan 11 kabupaten masuk dalam wilayah operasi aktif Satgas Damai Cartenz. Dari jumlah tersebut, lima kabupaten tercatat memiliki intensitas gangguan keamanan yang tinggi.
Salah satu sorotan penting adalah meningkatnya jumlah anggota KKB yang berasal dari kalangan anak muda dan milenial, yang direkrut bukan hanya karena faktor ideologis, tetapi juga karena kesenjangan sosial, kurangnya lapangan kerja, serta akses terbatas terhadap kesejahteraan.
Selain KKB yang bersenjata, aparat juga mengidentifikasi ancaman dari Kelompok Kriminal Politik (KKP) yang bergerak melalui pendekatan ideologis dan intelektual.
“Kalau KKB menggunakan senjata, maka KKP menggunakan wacana politik dan ideologis. Mereka menyasar kesadaran intelektual dan bisa menumbuhkan simpati baru yang jauh lebih berbahaya,” jelasnya.
Brigjen Faizal mengungkapkan bahwa KKB mendapatkan persenjataan dari tiga sumber utama, yakni pembelian dari dalam dan luar negeri, hasil perampasan, serta jaringan penyelundupan gelap, termasuk dari Filipina dan Papua Nugini.
“Pada Maret lalu kami tangkap pelaku yang menguasai 12 pucuk senjata api dan hampir 4.000 butir amunisi. Mereka membeli, menyelundupkan, dan memanfaatkan celah di perbatasan serta jalur laut,” ungkapnya.
Upaya pemberantasan terus dilakukan dengan memperkuat pengawasan jaringan distribusi senjata, termasuk hingga ke wilayah Sulawesi Utara dan perbatasan internasional.
Terkait pendanaan, KKB diketahui mendapatkan dana dari aksi kriminal serta penyalahgunaan dana desa, dengan memaksa kepala desa maupun kepala distrik menyerahkan uang untuk membiayai operasional kelompok.
“Kami sudah menangkap beberapa kepala desa dan kepala distrik yang terbukti menyerahkan dana kepada kelompok ini,” kata Faizal.
Medan geografis Papua yang luas dan menantang disebut menjadi kendala besar dalam pemberantasan KKB. Minimnya infrastruktur, cuaca ekstrem, serta kondisi alam yang sulit memperlambat pergerakan aparat keamanan.
"Wilayah Papua itu 2-4 kali lipat lebih besar dari Pulau Jawa. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam operasi,” jelasnya.
Di akhir pernyataannya, Brigjen Faizal menekankan bahwa penyelesaian masalah Papua tidak bisa dilakukan dengan pendekatan keamanan semata, melainkan harus komprehensif dan menyentuh akar masalah.
“Permasalahannya bukan cuma senjata. Ada ketimpangan, keterbatasan, dan luka sejarah. Maka penyelesaiannya harus berbasis paradigma baru yang menyeluruh. Kalau belum satu pemahaman, sulit bicara strategi teknis jangka panjang,” pungkasnya. (R)
beritaTerkait
komentar