Selasa, 27 Oktober 2026

KPK Perkuat Gerakan Antikorupsi di Aceh dan Bengkulu, Sasar Keluarga hingga Generasi Muda

Selasa, 27 Oktober 2026 18:55 WIB
KPK Perkuat Gerakan Antikorupsi di Aceh dan Bengkulu, Sasar Keluarga hingga Generasi Muda
Penguatan gerakan antikorupsi tersebut dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan Direktorat Pembinaan Permas KPK pada 19-22 Oktober 2026.

Banda Aceh (buseronline.com) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperkuat upaya pencegahan korupsi melalui berbagai program yang menyasar keluarga, pemerintahan desa, lembaga peradilan, hingga generasi muda di Provinsi Aceh dan Bengkulu.

Dilansir dari laman KPK, penguatan gerakan antikorupsi tersebut dilaksanakan melalui rangkaian kegiatan Direktorat Pembinaan Peran Serta Masyarakat (Permas) KPK pada 19-22 Oktober 2026.

Program ini menekankan pentingnya pendidikan integritas, transparansi tata kelola pemerintahan, serta keterlibatan masyarakat dalam mencegah praktik korupsi.

Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo, mengatakan pemberantasan korupsi tidak cukup hanya melalui penindakan hukum, tetapi harus disertai pencegahan dan pendidikan sejak dini.

Saat menghadiri kegiatan di Aceh, pada 21 Oktober 2026, Ibnu mengungkapkan bahwa sepanjang 2016-2023 tercatat 869 kasus korupsi dana desa di Indonesia.

Menurutnya, lemahnya transparansi anggaran, terbatasnya saluran pengaduan, minimnya partisipasi masyarakat, serta belum kuatnya budaya kerja antikorupsi menjadi sejumlah persoalan yang perlu mendapatkan perhatian.

"Pemberantasan korupsi perlu berjalan melalui penindakan, pencegahan, dan pendidikan sebagaimana pendekatan Trisula Pemberantasan Korupsi KPK," ujar Ibnu.

Ia menegaskan, aparatur desa perlu memperkuat keterbukaan tata kelola dan pengawasan internal agar anggaran desa dikelola secara bertanggung jawab serta manfaatnya dapat dirasakan masyarakat.

Komitmen tersebut diwujudkan melalui Penganugerahan Desa Percontohan Antikorupsi Provinsi Aceh Tahun 2026 di Gedung Anjong Mon Mata, Banda Aceh. Sebanyak 15 desa dari sejumlah kabupaten dan kota menerima penghargaan, termasuk Gampong Panteriek.

Penilaian melibatkan unsur dinas pemberdayaan masyarakat gampong, dinas komunikasi dan informatika, serta inspektorat.

Ibnu mengapresiasi komitmen Pemerintah Aceh dalam menjalankan Program Percontohan Desa Antikorupsi. Ia berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi desa penerima untuk mempertahankan praktik tata kelola yang berintegritas sekaligus menjadi inspirasi bagi desa lainnya.

Wakil Kepala Satuan Tugas Direktorat Permas KPK, David Sepriwasa, menambahkan bahwa partisipasi masyarakat merupakan faktor penting dalam pengawasan pemerintahan desa.

Menurutnya, warga perlu memiliki akses terhadap informasi, ruang untuk menyampaikan masukan, serta kesempatan mengawasi pelayanan publik dan penggunaan anggaran.

Selain pemerintahan desa, KPK turut menyasar lingkungan lembaga peradilan melalui kegiatan Diseminasi Antikorupsi di Aula Pengadilan Tinggi Banda Aceh.

Kegiatan yang diikuti 150 peserta tersebut membahas nilai-nilai antikorupsi dan pentingnya etika profesi dalam menjaga integritas aparatur peradilan.

David mengatakan integritas menjadi fondasi bagi pelaksanaan tugas peradilan yang independen, profesional, dan akuntabel. Penguatan nilai tersebut dinilai penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses penegakan hukum.

KPK juga menekankan pentingnya membangun budaya antikorupsi dari lingkungan keluarga. Nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, kesederhanaan, dan kepedulian perlu ditanamkan melalui kebiasaan serta keteladanan sehari-hari.

Untuk mendukung upaya tersebut, KPK menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Keluarga Berintegritas di Gedung Anjong Mon Mata, Banda Aceh, pada 22 Oktober 2026.

Kegiatan itu diikuti 50 pasangan pejabat eselon I dan II Pemerintah Provinsi Aceh. Peserta mengikuti pembelajaran, menyusun perisai integritas keluarga, merumuskan visi dan misi keluarga, serta menandatangani pakta integritas.

Di Bengkulu, KPK menggelar kegiatan Keluarga Berintegritas di Aula Merah Putih, Kantor Pemerintah Provinsi Bengkulu, pada 20 Oktober 2026.

Kegiatan bertema "Pentingnya Membangun Karakter Melalui Kebiasaan Keluarga" tersebut dihadiri Wakil Gubernur Bengkulu H Mian, Ketua BKOW Provinsi Bengkulu Eko Kurnia Ningsih, Kepala Dinas P3APPKB Gusti Miniarti, serta sejumlah kepala perangkat daerah.

Wakil Kepala Satuan Tugas 2 Direktorat Permas KPK, Dion Hardika, mengatakan kegiatan tersebut mengajak peserta menerapkan nilai integritas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari membangun komunikasi keluarga hingga mengambil keputusan dan mengelola kebutuhan secara bertanggung jawab.

"Pencegahan perilaku koruptif tidak cukup melalui pemahaman tentang pelanggaran hukum, tetapi perlu dibangun lewat kebiasaan jujur dan bertanggung jawab," kata Dion.

Ia menambahkan, pendidikan antikorupsi perlu memanfaatkan identitas, pengalaman, dan nilai budaya setempat agar lebih mudah dipahami dan diterapkan masyarakat.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui Lokakarya Penulisan Materi Antikorupsi Berbasis Kearifan Lokal Bumi Rafflesia di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Bengkulu, pada 21 Oktober 2026.

Kegiatan itu melibatkan unsur pemerintah daerah untuk menggali potensi budaya lokal sebagai sumber materi pendidikan antikorupsi.

Menurut Dion, pemanfaatan kearifan lokal dapat membuat pendidikan antikorupsi lebih kontekstual karena menghubungkan nilai integritas dengan pengalaman sosial dan budaya yang telah dikenal masyarakat.

KPK juga mendorong keterlibatan generasi muda melalui kegiatan "Temu Tamu Society: Integrity Starts With Us" di Universitas Bengkulu, pada 20 Oktober 2026.

Kegiatan yang diinisiasi alumni SINTESIS 2026, Dimas Heriyadi, tersebut merupakan implementasi Rencana Aksi Alumni SINTESIS 2026.

Melalui seni, pemutaran film, pemaparan materi, dan diskusi terbuka, mahasiswa serta komunitas diajak mengenal dan mendiskusikan nilai-nilai antikorupsi.

Sementara itu, penguatan gerakan antikorupsi di Bengkulu juga dilakukan melalui Forum Diskusi Penyuluh Antikorupsi (PAKSI) pada 19 Oktober 2026, di Ruang Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu.

Forum tersebut menjadi wadah koordinasi bagi para pemangku kepentingan untuk memperkuat keterlibatan dalam pendidikan dan gerakan antikorupsi di daerah.

Rangkaian kegiatan di Aceh dan Bengkulu menunjukkan bahwa pemberantasan korupsi membutuhkan keterlibatan berbagai unsur masyarakat.

Keluarga berperan membentuk karakter, pemerintahan desa memperkuat akuntabilitas, lembaga peradilan menjaga integritas penegakan hukum, sedangkan kearifan lokal dan generasi muda memperluas jangkauan pendidikan antikorupsi.

Melalui program tersebut, KPK mendorong penerapan nilai integritas secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari maupun penyelenggaraan pemerintahan.

Transparansi, pengawasan yang efektif, serta partisipasi aktif masyarakat diharapkan dapat mempersempit peluang terjadinya korupsi dan memperkuat kepercayaan publik. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
KPK Serahkan Dua Bidang Tanah Senilai Rp250 Juta untuk Dukung Pelayanan ATR/BPN Labuhanbatu
Laboratorium Sabu di Aceh Terbongkar, Aparat Sita Hampir 1,2 Ton Narkotika
KPK Tahan Tujuh Tersangka Kasus Dugaan Suap Proyek Jalan di Sumatera Utara
Skor SPI Klaten 73,97, KPK Dorong Pembenahan Tata Kelola Pemerintahan
KPK Hibahkan Aset Rampasan Korupsi Rp9,65 Miliar ke Pemprov DKI, Bakal Jadi Pos Damkar
KPK Soroti Politik Uang dan Biaya Politik Tinggi, Dorong Pembenahan Tata Kelola Partai
komentar
beritaTerbaru