Jakarta (buseronline.com) - Perubahan pola ancaman terorisme dan ekstremisme berbasis kekerasan di era digital menjadi perhatian utama dalam Bedah Buku Gamifikasi Kekerasan dalam Teror Modern di Era Digital yang digelar dalam rangkaian Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Densus 88 Antiteror Polri Tahun Anggaran 2026.
Dilansir dari laman Humas Polri, kegiatan tersebut dihadiri Wakapolri
Komjen Pol Dedi Prasetyo, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Komjen Pol (Purn) Eddy Hartono, serta Kadensus 88 AT Polri Irjen Pol Sentot Prasetyo.
Dalam forum itu, para pemangku kepentingan membahas perubahan ancaman terorisme yang kini bergerak lebih cair melalui ruang digital, algoritma media sosial, komunitas virtual, hingga kerentanan psikologis generasi muda.
Wakapolri Dedi Prasetyo menegaskan bahwa pola ancaman saat ini tidak lagi selalu tumbuh melalui organisasi besar dengan struktur formal, melainkan berkembang melalui ruang digital dan fragmen ideologi yang sulit dipetakan.
"Kita sedang menghadapi ancaman yang tidak lagi selalu tumbuh melalui organisasi besar dengan struktur formal, tetapi bergerak melalui ruang digital, algoritma, dan fragmen ideologi yang sulit dipetakan. Negara tidak boleh hanya hadir saat api sudah membesar; pencegahan sosial harus hadir lebih awal, sedangkan penegakan hukum menjadi langkah terakhir yang terukur," ujarnya.
Menurutnya, mitigasi ancaman terorisme harus diperkuat melalui literasi digital, perlindungan anak, dan kemampuan masyarakat mendeteksi risiko sejak dini, tidak hanya mengandalkan penindakan hukum.
Sementara itu, Kepala BNPT Eddy Hartono menilai terorisme dan ekstremisme kini menjadi ancaman lintas sektor yang membutuhkan sinergi nasional lebih kuat.
"Terorisme dan ekstremisme tidak lagi dapat dipandang sebagai persoalan satu institusi. Ancaman ini lintas sektor, lintas ruang, dan lintas generasi. Karena itu, pencegahan harus dibangun melalui kolaborasi antara aparat keamanan, dunia pendidikan, keluarga, komunitas, hingga platform digital," katanya.
Kadensus 88 AT Polri Sentot Prasetyo menambahkan bahwa pola ekstremisme modern kini lebih personal dan sering kali bermula dari paparan digital yang tidak terdeteksi.
"Kami melihat langsung bagaimana pola ekstremisme berubah. Ancaman kini lebih cair, lebih personal, dan sering kali berawal dari paparan digital yang tidak terdeteksi. Karena itu, pendekatan penanggulangan harus semakin berbasis pencegahan, asesmen risiko, dan perlindungan kelompok rentan," ujar Sentot.
beritaTerkait
komentar