Minggu, 03 Mei 2026

Kementan Percepat Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi

Minggu, 03 Mei 2026 09:00 WIB
Kementan Percepat Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi
Kementan mengakselerasi gerakan tanam serentak seluas 50 ribu hektare di 25 provinsi sebagai langkah strategis menjaga produksi pangan nasional sekaligus mengantisipasi ancaman musim kemarau 2026 yang dilaksanakan, Kamis (30/4/2026).

Agam (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) mengakselerasi gerakan tanam serentak seluas 50 ribu hektare di 25 provinsi sebagai langkah strategis menjaga produksi pangan nasional sekaligus mengantisipasi ancaman musim kemarau 2026.

Gerakan yang dilaksanakan, Kamis, ini mencakup lahan optimalisasi (oplah), cetak sawah rakyat (CSR), serta lahan terdampak bencana. Adapun titik utama kegiatan dipusatkan di Kabupaten Agam.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa total luasan tanam tersebut terdiri atas oplah tahun 2024 seluas 20.000 hektare, oplah 2025 seluas 23.000 hektare, CSR 2025 seluas 5.000 hektare, serta rehabilitasi lahan terdampak bencana seluas 2.026 hektare.

"Percepatan tanam harus terus dijaga dengan pengawalan kuat di lapangan. Penyuluh bersama petani menjadi kunci untuk memastikan lahan siap tanam dapat segera ditanami dan menghasilkan optimal," ujarnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti rice transplanter dan drone pertanian turut didorong guna meningkatkan efisiensi serta mengatasi keterbatasan tenaga kerja.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang hadir secara daring menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat, mulai dari pemerintah daerah, petani, penyuluh, hingga aparat.

"Ini adalah komitmen bersama untuk memperkuat swasembada pangan. Kita terus dorong tanam serempak di seluruh Indonesia," katanya, dilansir dari laman Kementan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi menegaskan bahwa percepatan tanam menjadi salah satu strategi utama dalam menghadapi potensi kekeringan, dengan puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Menurutnya, Kementan telah menginstruksikan pemerintah daerah untuk memperkuat langkah mitigasi, mulai dari pemantauan data iklim, pemetaan wilayah rawan kekeringan, hingga penguatan infrastruktur air.

Sejumlah strategi yang didorong antara lain percepatan tanam di penghujung musim hujan, pompanisasi untuk menjaga suplai air, optimalisasi lahan rawa, penggunaan benih tahan kekeringan, serta pembangunan embung, long storage, dan sumur bor.

Dukungan terhadap program ini juga datang dari daerah. Bupati Barru, Andi Ina Kartika Sari, menyampaikan apresiasi atas bantuan pemerintah pusat yang dinilai mampu meningkatkan luas tanam dan produksi pertanian di wilayahnya.

"Program ini menjadi berkah bagi kami. Kami optimistis dapat meningkatkan produksi dan berkontribusi sebagai daerah penyangga pangan nasional," ujarnya.

Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, Kementan optimistis gerakan tanam serentak ini mampu mempercepat peningkatan produksi, menjaga ketersediaan pangan nasional, serta memperkuat ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim. (R)

beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru