Senin, 20 April 2026

Pertanian Indonesia Melesat, Ekspor Naik 28 Persen dan Impor Turun

Senin, 20 April 2026 08:22 WIB
Pertanian Indonesia Melesat, Ekspor Naik 28 Persen dan Impor Turun
Sektor pertanian Indonesia menunjukkan kinerja impresif dengan tren pertumbuhan yang semakin kuat dan menyeluruh.

Jakarta (buseronline.com) - Sektor pertanian Indonesia menunjukkan kinerja impresif dengan tren pertumbuhan yang semakin kuat dan menyeluruh. Peningkatan ini tercermin dari lonjakan ekspor, penurunan impor, hingga membaiknya kesejahteraan petani.

Dilansir dari laman Kementan, berdasarkan data terbaru, nilai ekspor sektor pertanian, baik produk segar maupun olahan, meningkat sebesar Rp166,71 triliun atau tumbuh 28,26 persen. Sementara itu, impor mengalami penurunan signifikan sebesar Rp41,68 triliun atau turun 9,66 persen.

Kondisi ini menunjukkan daya saing produk pertanian Indonesia yang semakin kuat di pasar global sekaligus menekan ketergantungan pada produk luar negeri.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menegaskan capaian tersebut merupakan hasil dari strategi terintegrasi dari hulu hingga hilir.

"Ini bukan kerja satu program, tapi orkestrasi besar. Produksi kita naik, ekspor meningkat tajam, impor kita tekan. Artinya, fondasi pertanian kita semakin kuat dan semakin mandiri," ujar Amran, Jumat.

Kinerja positif ini turut mendorong peningkatan pendapatan sektor pertanian yang mencapai Rp437,25 triliun. Kenaikan tersebut berasal dari produksi padi, jagung, komoditas non-pangan, serta kontribusi ekspor.

Selain itu, efisiensi devisa dari penurunan impor tercatat mencapai Rp34 triliun. Dari sisi produksi, Indonesia mencatat lonjakan signifikan pada komoditas beras.

Produksi beras meningkat 4,07 juta ton atau tumbuh 13,29 persen, yang mengantarkan Indonesia menuju swasembada pangan dalam waktu singkat serta memperkuat posisinya di kawasan ASEAN.

Cadangan Beras Pemerintah (CBP) juga mencapai level tertinggi sepanjang sejarah, yakni 4,8 juta ton pada April 2026 dan diproyeksikan menembus 5 juta ton pada akhir bulan. Cadangan ini menjadi penopang penting dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan nasional.

"Cadangan kita tertinggi sepanjang sejarah. Ini bukan hanya soal angka, tapi soal rasa aman bagi rakyat Indonesia. Kita pastikan stok cukup, harga stabil, dan petani tetap untung," tegas Amran.

Kesejahteraan petani ikut mengalami peningkatan. Nilai Tukar Petani (NTP) tercatat sebesar 125,35, tertinggi dalam 34 tahun terakhir, yang mencerminkan meningkatnya daya beli dan pendapatan petani.

Di sisi makroekonomi, sektor pertanian juga mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 5,74 persen pada 2025, tertinggi dalam 25 tahun terakhir, menjadikannya sebagai salah satu penopang utama ekonomi nasional.

Capaian ini diraih di tengah penurunan harga beras dunia hingga 44,2 persen. Meski demikian, Indonesia mampu bertahan bahkan menghentikan impor beras, menunjukkan ketahanan sistem produksi nasional yang semakin kuat.

Transformasi menuju pertanian modern menjadi faktor penting dalam keberhasilan ini. Efisiensi biaya produksi berhasil ditekan hingga 50 persen, sementara produktivitas meningkat hingga 100 persen melalui penggunaan benih unggul, mekanisasi pertanian, serta program pompanisasi dan optimalisasi lahan.

Selain itu, penguatan hilirisasi komoditas strategis seperti kelapa, kakao, kopi, dan sawit terus didorong. Program ini tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga membuka peluang investasi besar dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan.

Pemerintah juga melakukan reformasi struktural melalui deregulasi kebijakan serta pemberantasan mafia pangan guna memperbaiki sistem distribusi dan produksi.

"Kita bereskan dari hulu sampai hilir. Regulasi kita sederhanakan, mafia kita tindak, distribusi kita perbaiki. Hasilnya sekarang nyata, pertanian kita tumbuh, petani sejahtera, dan Indonesia semakin kuat," ujar Amran.

Dengan capaian tersebut, sektor pertanian tidak hanya menjadi penopang ketahanan pangan nasional, tetapi juga motor penggerak ekonomi, pencipta lapangan kerja, serta sumber devisa negara.

Pemerintah optimistis tren positif ini akan terus berlanjut menuju swasembada pangan berkelanjutan dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
komentar
beritaTerbaru