Selasa, 26 Mei 2026

APBN 2025 Tunjukkan Kinerja Positif, Menkeu Purbaya Sampaikan Realisasi Sementara

Minggu, 11 Januari 2026 06:22 WIB
APBN 2025 Tunjukkan Kinerja Positif, Menkeu Purbaya Sampaikan Realisasi Sementara
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan paparan realisasi sementara APBN 2025 dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis (8/1/2026). (Dok/Kemenkeu)

Jakarta (buseronline.com) - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan realisasi sementara Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 yang menunjukkan kinerja solid, dalam konferensi pers APBN KiTA di Jakarta, Kamis.


Dalam paparannya, dilansir dari laman Kemenkeu, Menkeu Purbaya menekankan bahwa APBN berperan sebagai instrumen kebijakan yang antisipatif dan responsif, terutama dalam menghadapi kondisi ekonomi global dan domestik yang volatile.


“Dalam kondisi yang volatile di tahun 2025, APBN menjadi instrumen kebijakan yang antisipatif dan responsif menghadapi perkembangan dinamika global dan domestik,” ujar Menkeu.


Pendapatan negara tercatat sebesar Rp2.756,3 T atau 91,7 persen dari outlook semester yang sebesar Rp2.865,5 T. Penerimaan perpajakan mencapai Rp2.217,9 T atau 89 persen dari target Rp2.387,3 T, dengan rincian penerimaan pajak Rp1.917,6 T atau 87,6 persen dari target dan penerimaan kepabeanan serta cukai Rp300,3 T atau 99,6 persen dari target.


Sementara itu, penerimaan negara bukan pajak (PNBP) mencapai Rp534,1 T atau 104 persen dari target Rp477,2 T. Penerimaan hibah juga tercatat melonjak signifikan, sebesar Rp4,3 T atau 733,3 persen dari target Rp1 T.


Belanja negara sepanjang 2025 mencapai Rp3.451,4 T atau 95,3 persen dari outlook laporan semester sebesar Rp3.527,5 T. Belanja pemerintah pusat mencapai Rp2.602,3 T, terdiri dari belanja kementerian dan lembaga Rp1.500,4 T, serta belanja non-K/L Rp1.102 T. Transfer ke daerah telah disalurkan sebesar Rp849 T.


Menkeu menegaskan bahwa belanja negara dirancang adaptif dan akomodatif, mendukung berbagai program prioritas untuk mensejahterakan rakyat. Upaya reformasi terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas APBN, baik dari sisi pendapatan, belanja, maupun pembiayaan. Akhir tahun, defisit APBN terkendali pada batas aman 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), yakni sebesar Rp695,1 T.


“Kita tahu ekonomi kita sedang mengalami downtrend. Kita harus memberikan stimulus ke perekonomian. Ini wujud dari komitmen pemerintah untuk menjaga ekonomi tetap tumbuh secara berkesinambungan tanpa membahayakan APBN. Tapi kita tetap jaga, pastikan defisitnya tidak di atas 3 persen,” jelas Menkeu Purbaya.


Menkeu juga optimistis bahwa dengan membaiknya fondasi perekonomian dan momentum pertumbuhan ekonomi ke depan, defisit APBN 2026 dapat ditekan lebih rendah dengan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi yang dirasakan masyarakat. Tahun ini, pertumbuhan ekonomi diasumsikan 5,4 persen, dengan harapan bisa meningkat lebih tinggi.


Menurut Menkeu, APBN akan terus dioptimalkan sebagai mesin pertumbuhan ekonomi sekaligus shock absorber untuk melindungi daya beli masyarakat dan menjaga stabilitas ekonomi nasional.


“APBN dan mesin pertumbuhan lain akan terus dioptimalkan peranannya dalam mempercepat pertumbuhan ekonomi, sekaligus menjaga stabilitas dan daya beli masyarakat,” pungkas Menkeu Purbaya. (R)

Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
Bupati Taput Tinjau Pemulihan Infrastruktur dan Lahan Hunian Korban Bencana di Adian Koting
Presiden Prabowo Tiba di Prancis, Awali Kunjungan Resmi Kenegaraan
998 Personel Gabungan Amankan Perayaan Idul Adha di Kota Bandung
BGN Gandeng Polri Usut Dugaan Jual Beli Titik SPPG Program MBG
PKK Jateng Gencarkan Gemarikan untuk Tekan Angka Stunting
Bareskrim dan PLN: Blackout Sumatera Dipicu Cuaca Ekstrem, Tidak Ada Unsur Sabotase
komentar
beritaTerbaru