Rabu, 27 Mei 2026

TPID Jateng Siapkan Strategi Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok

Kamis, 06 Maret 2025 09:15 WIB
TPID Jateng Siapkan Strategi Kendalikan Harga Kebutuhan Pokok
Asisten Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, bersama perwakilan Bank Indonesia Jateng dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Semarang, Selasa (4/3/2025). (Dok/Diskominfo Jateng)
Semarang (buseronline.com) - Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Jawa Tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk mengendalikan harga kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan di awal Ramadan 2025. Salah satu langkah yang diambil adalah Gerakan Pangan Murah (GPM) dan pengawasan ketat terhadap kemungkinan penimbunan barang oleh oknum yang ingin mengambil keuntungan.

Asisten Ekonomi dan Pembangunan Provinsi Jawa Tengah, Sujarwanto Dwiatmoko, menyebut beberapa komoditas mengalami lonjakan harga, terutama cabai rawit merah, yang harganya bahkan melebihi Rp100.000 per kilogram.

"Gerakan Pangan Murah akan digelar untuk membantu masyarakat mendapatkan bahan pokok dengan harga terjangkau. Selain itu, pemantauan pasar terus dilakukan untuk mencegah penimbunan barang. Satgas Pangan akan turun langsung ke lapangan," kata Sujarwanto usai mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi bersama Kemendagri secara daring, Selasa.

Meski terjadi kenaikan harga di beberapa komoditas, Sujarwanto memastikan stok bahan pangan di Jawa Tengah masih mencukupi, termasuk cadangan beras yang diperkirakan aman hingga lima bulan ke depan. Oleh karena itu, masyarakat diminta tetap tenang dan tidak melakukan panic buying.

Sebagai langkah stabilisasi harga, TPID Jateng akan menggelar Gerakan Pangan Murah (GPM) pada 6-7 Maret 2025 di lima wilayah, yaitu:

Kabupaten Semarang

Pemalang

Kota Salatiga

Kendal

Purworejo

Dalam GPM ini, Dishanpan Jateng dan BUMD akan menyediakan bahan pokok dengan harga lebih terjangkau, seperti:

Beras: Rp11.000 per kilogram

Minyak goreng: Rp14.000 per liter

Cabai rawit merah (kemasan 250 gram): Rp15.000

Sujarwanto juga menyoroti potensi kenaikan inflasi setelah kebijakan subsidi listrik 50 persen tidak lagi berlaku mulai Maret-April 2025. Menurut catatan BPS Jateng, pada Januari-Februari 2025, Jawa Tengah mengalami deflasi. Namun, hal itu bukan karena daya beli masyarakat menurun, melainkan akibat kebijakan subsidi listrik yang mengurangi pengeluaran masyarakat.

"Saat subsidi listrik berakhir, inflasi kemungkinan akan meningkat. Apalagi, permintaan barang juga akan naik menjelang Idulfitri," jelasnya.

Dengan strategi ini, TPID Jateng berharap harga kebutuhan pokok tetap terkendali, inflasi dapat dijaga dalam batas wajar, dan daya beli masyarakat tetap stabil. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
PHHB GBKP Setia Budi Medan Kunjungi PPOS Sukamakmur
PKK Jateng Dorong Penguatan Ekonomi Keluarga Lewat Program Kapulaga
Pamekasan Pecahkan Rekor MURI SAIH, Mendikdasmen Ajak Wujudkan Generasi Emas 2045
Indonesia Percepat Transformasi Pengendalian Kanker Lewat Deteksi Dini dan Kolaborasi Global
SC Paderborn 07 Promosi ke Bundesliga, VfL Wolfsburg Terdegradasi Setelah 29 Musim
FIFA dan PSSI Gelar Kampanye “Be Active” untuk Dorong Gaya Hidup Sehat Anak
komentar
beritaTerbaru