Sabtu, 15 Agustus 2026

Kementan Gandeng UNESA Bangun Basis Produksi Benih Kedelai di Jawa Timur

Sabtu, 15 Agustus 2026 09:40 WIB
Kementan Gandeng UNESA Bangun Basis Produksi Benih Kedelai di Jawa Timur
Kementan RI menggandeng UNESA untuk membangun basis produksi benih kedelai berkualitas di Jawa Timur.

Surabaya (buseronlin.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) RI menggandeng Universitas Negeri Surabaya (UNESA) untuk membangun basis produksi benih kedelai berkualitas di Jawa Timur.

Dilansir dari laman Kementan, kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Kementan dan UNESA di Surabaya, Rabu.

Dalam kerja sama tersebut, sebanyak 56 hektare lahan milik UNESA akan dimanfaatkan untuk budidaya kedelai. Kementan akan memberikan dukungan berupa benih gratis serta alat dan mesin pertanian (alsintan), termasuk traktor roda empat.

Menteri Pertanian (Mentan) RI Andi Amran Sulaiman mengatakan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghubungkan kekuatan riset perguruan tinggi dengan produksi pertanian secara langsung.

"Kita langsung tanda tangan MoU dan kemudian kita tindak lanjuti untuk kedelai. UNESA punya lahan 56 hektare, kami berikan bibit gratis dan alat mesin pertanian, termasuk traktor roda empat," ujar Amran.

Ia menargetkan lahan tersebut mampu menghasilkan kedelai dengan produktivitas minimal 3,5 ton per hektare. Bahkan, produktivitasnya diharapkan dapat mencapai 4 hingga 5 ton per hektare.

Para dosen UNESA juga akan dilibatkan dalam kegiatan budidaya dan penelitian. Dengan demikian, kawasan tersebut tidak hanya menjadi lahan produksi, tetapi juga ruang pengembangan inovasi dan teknologi pertanian.

Menariknya, Kementan tidak hanya memberikan dukungan pada tahap produksi. Pemerintah juga akan bertindak sebagai pembeli atau offtaker seluruh benih yang dihasilkan dari lahan tersebut.

"Kalau produksinya insya Allah bisa 4 ton, 5 ton, minimal 3,5 ton per hektare, semua benih dari 56 hektare kami beli. Offtaker-nya Kementerian Pertanian. Setelah itu kami berikan secara gratis kepada masyarakat Jawa Timur," tegas Amran.

Menurutnya, pola tersebut merupakan bagian dari strategi memperkuat produksi kedelai nasional secara berkelanjutan. Perguruan tinggi didorong tidak hanya menghasilkan penelitian, tetapi juga membawa inovasi hingga tahap produksi sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung masyarakat.

Amran mengatakan, penguatan komoditas kedelai merupakan salah satu perhatian pemerintah. Perguruan tinggi yang memiliki kemampuan dan sumber daya akan dilibatkan sesuai dengan komoditas yang dikembangkan.

"Kita terus mengembangkan kedelai karena Bapak Presiden Prabowo meminta kita untuk selalu memperkuat kedelai. Kemudian untuk perguruan tinggi yang aktif, kita bagi sesuai dengan komoditas dan kemampuan masing-masing," katanya.

Kerja sama dengan UNESA merupakan bagian dari skema yang lebih luas untuk melibatkan perguruan tinggi dalam pengembangan komoditas strategis. Kementan juga membuka peluang bagi kampus lain untuk bekerja sama dalam pengembangan komoditas, teknologi maupun peralatan pertanian.

Amran menyebut kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut sinergi Kementan dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

"Kami sudah MoU dengan Pak Mendiktisaintek. Siapa yang berminat pada komoditas pertanian, termasuk peralatan pertanian, itu bisa langsung MoU dengan kita. Daripada membeli produk-produk dari luar negeri, kita harus bangga dengan produk-produk perguruan tinggi kita sendiri," ujarnya.

Ia menilai kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi, dan dunia usaha merupakan penerapan konsep triple helix. Pemerintah berperan sebagai regulator, akademisi menghasilkan inovasi dan teknologi, sementara dunia usaha menjadi penggerak kegiatan ekonomi.

"Kalau triple helix dijalankan dengan baik, pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pengusaha, kemudian akademisi menciptakan inovasi baru, negara ini kuat. Sangat kuat," katanya.

Dalam kesempatan yang sama, Mentan Amran juga menyerahkan combine harvester kepada Hasan, salah satu mahasiswa yang diwisuda.

Amran berharap bantuan alsintan tersebut tidak hanya digunakan sebagai sarana praktik, tetapi juga dikelola secara produktif sehingga mahasiswa memperoleh pengalaman langsung menjadi wirausaha di sektor pertanian.

"Kita berharap dia menjadi pengusaha yang tangguh. Insya Allah kami berikan combine. Pendapatannya bisa minimal Rp2 juta per hari. Kalau Rp2 juta, berarti Rp60 juta per bulan," ujarnya.

Menurut Amran, pendekatan tersebut penting untuk mengubah pandangan terhadap sektor pertanian yang selama ini identik dengan pekerjaan manual. Dengan dukungan teknologi dan mekanisasi, pertanian dinilai dapat menjadi sektor usaha modern yang produktif dan menarik bagi generasi muda.

Modernisasi pertanian juga dinilai mampu meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi. Mekanisasi memungkinkan proses pengolahan tanah, penanaman hingga panen dilakukan lebih cepat dan efisien.

"Pertanian modern adalah semua alat pengolahan tanah menggunakan alat dan mesin pertanian. Tujuannya apa? Planting index naik dari satu kali menjadi tiga kali, produktivitas juga naik, dan biaya bisa turun sampai 60 persen. Itulah pertanian modern," tegas Amran.

Melalui kolaborasi tersebut, Kementan berharap kekuatan akademik perguruan tinggi tidak berhenti di laboratorium dan ruang kuliah.

Lahan, riset, teknologi, dosen, dan mahasiswa diharapkan dapat terintegrasi dalam ekosistem produksi pertanian untuk menghasilkan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan pangan nasional. (R)

Editor
: Administrator
beritaTerkait
Mentan Amran Ancam Cabut Izin Importir Jika Terbukti Mainkan Harga Pakan
Kementan Genjot Produktivitas Sawit untuk Penuhi Kebutuhan CPO Program B50
Pemerintah Perluas Pengawasan Dugaan Penyimpangan Beras Fortifikasi
Kementan dan TNI Percepat Cetak 7.000 Hektare Sawah Baru di OKI
Kementan Percepat Swasembada Gula, Target Tercapai dalam Dua Tahun
Mentan Amran Borong Inovasi ITS, Benih Jagung Rp10 Miliar hingga Traktor Amfibi
komentar
beritaTerbaru