Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Kota (Pemko) Bandung terus berupaya menekan angka pengangguran dan mengantisipasi meningkatnya pemutusan hubungan kerja (PHK) melalui berbagai program ketenagakerjaan.
Wali Kota
Bandung Muhammad Farhan mengungkapkan, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Kota
Bandung saat ini masih berada di angka 7,24 persen. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya angka PHK serta banyaknya pencari kerja dari luar daerah yang datang ke Kota
Bandung.
"Tantangan ketenagakerjaan di Kota Bandung adalah tingkat pengangguran terbuka kita masih di atas 7 persen. Di saat yang sama, tingkat PHK cukup tinggi sementara banyak orang dari luar Kota Bandung datang untuk mencari pekerjaan," kata Farhan pada acara Rembuk Kota di Hotel Aryaduta Bandung, Rabu.
Menurut Farhan, penanganan persoalan ketenagakerjaan tidak bisa dilakukan oleh pemerintah semata, tetapi memerlukan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan untuk menghasilkan solusi yang komprehensif.
Ia menilai, kunci utama dalam menciptakan lapangan kerja adalah dengan membangun iklim usaha yang sehat sehingga dunia usaha dapat bertahan dan terus membuka peluang kerja baru. Saat ini, sektor pendidikan dinilai menjadi salah satu peluang investasi terbesar di Kota Bandung.
Sementara itu, Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota
Bandung Yayan Ahmad Brilyana mengatakan pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi untuk menghadapi potensi meningkatnya PHK akibat dinamika
ekonomi global.
Salah satu program yang diperkuat adalah pelatihan berbasis kompetensi yang disesuaikan dengan kebutuhan dunia industri dan dilengkapi sertifikasi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
"Pelatihannya harus presisi sesuai kebutuhan industri agar peserta memiliki daya saing saat masuk ke dunia kerja," ujar Yayan dilansir dari laman Jabarprov.
Selain pelatihan, Disnaker Kota Bandung juga memperluas program padat karya sebagai upaya mengurangi dampak PHK sekaligus mendukung penataan kota.
Program magang bersubsidi yang bekerja sama dengan industri perhotelan, restoran, dan kafe juga terus diperkuat. Dalam program tersebut, peserta mendapatkan uang transportasi, konsumsi, serta pengalaman kerja selama dua hingga tiga bulan.
Menurut Yayan, sebagian besar peserta magang akhirnya terserap ke dunia kerja, bahkan ada yang berhasil membuka usaha sendiri.
Tak hanya membuka peluang kerja di dalam negeri, Pemkot Bandung juga mendorong penempatan tenaga kerja ke luar negeri, khususnya ke Jepang yang saat ini membutuhkan tenaga kerja di sektor caregiver, perhotelan, dan manufaktur.
Pemerintah memberikan subsidi pelatihan bahasa Jepang sebesar Rp10 juta hingga Rp15 juta bagi peserta yang telah dinyatakan siap berangkat. Dalam waktu dekat, sekitar 50 orang dijadwalkan diberangkatkan ke Jepang.
Selain itu, Disnaker Kota Bandung juga menjalin kerja sama dengan Universitas Teknologi Bandung (UTB) untuk membuka kesempatan bagi mahasiswa bekerja di Jepang sambil melanjutkan pendidikan. (R)
beritaTerkait
komentar