Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Suwandi, menjelaskan bahwa tekanan harga telur dipicu oleh meningkatnya pasokan di sejumlah sentra produksi dan melambatnya serapan selama periode libur panjang pada Mei lalu.
Namun, seiring normalnya aktivitas pasar, meningkatnya penyerapan, dan membaiknya distribusi, harga telur mulai menunjukkan tren perbaikan.
Hal serupa disampaikan Sekretaris Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy. Ia mengatakan pemerintah bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan BGN telah melakukan koordinasi untuk memperkuat penyerapan telur dari peternak sesuai Harga Acuan Pembelian sebesar Rp26.500 per kilogram.
Saat harga telur di sejumlah kabupaten di Jawa Timur sempat turun hingga Rp21.000-Rp22.000 per kilogram, pemerintah segera mengambil langkah untuk meningkatkan penyerapan melalui SPPG. Upaya tersebut dinilai mulai memberikan dampak positif dengan meningkatnya harga telur di tingkat peternak.
Meski demikian, pemerintah menegaskan proses stabilisasi harga masih perlu terus dikawal. Penguatan distribusi, penyerapan, dan tata niaga akan terus dilakukan guna menjaga keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus memastikan pasokan protein hewani bagi masyarakat tetap tersedia dengan baik. (*)
beritaTerkait
komentar