Bandung (buseronline.com) - Program Wakaf Hijau yang dikembangkan Kantor Pertanahan Kota Bandung di Masjid Al-Hidayah RW 03, Kelurahan Pasirbiru, Kecamatan Cibiru, berhasil meningkatkan produktivitas lahan wakaf melalui budidaya bawang dan pengolahan hasil pertanian untuk mendukung ekonomi jemaah serta ketahanan pangan masyarakat.
Kepala Kantor Pertanahan
Kota Bandung Yayat Ahadiat Awaludin mengatakan, program tersebut merupakan kelanjutan reforma agraria melalui optimalisasi tanah wakaf yang telah tersertifikasi.
"Ini program lanjutan dari kegiatan reforma agraria yang berawal dari pensertifikatan tanah wakaf masjid. Kebetulan masjid ini memiliki lahan yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya tanaman dengan konsep urban farming," ujar Yayat, Kamis.
Menurutnya, konsep urban farming diterapkan karena
Kota Bandung memiliki keterbatasan lahan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi sehingga lahan sempit tetap dapat dimanfaatkan secara produktif.
"Dengan lahan terbatas, kita dorong agar tetap efektif digunakan untuk budidaya. Dari 1 kilogram bibit bawang bisa menghasilkan hingga 6 kilogram bawang siap jual. Ini sangat potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat," katanya.
Program Wakaf Hijau telah berjalan selama satu tahun di lima wilayah
Kota Bandung dengan pendampingan berkelanjutan agar pengelolaan lahan wakaf semakin berkembang.
Yayat menjelaskan, program tersebut mendapat dukungan lintas sektor melalui kolaborasi dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Dinas UMKM, serta Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Barat.
"Kita bersinergi dari hulu sampai hilir. Mulai dari pembibitan, pendampingan teknis, hingga pemasaran. Harapannya produksi meningkat dan manfaatnya semakin luas dirasakan masyarakat," ujarnya.
Ketua Dewan Kemakmuran Masjid Al-Hidayah, Ridwan menyebut panen bawang kali ini menjadi panen keempat dengan hasil yang terus meningkat dibanding awal program berjalan.
"Alhamdulillah ini panen keempat. Awalnya hanya 2 kilogram, sekarang hampir semua lahan terisi bawang. Hasilnya cukup lumayan dan memberikan keuntungan," ungkap Ridwan.
Selain budidaya bawang, pengurus masjid juga mengembangkan usaha lele, sayuran, ayam, dan jamur sebagai bagian pemberdayaan ekonomi jemaah.
Ridwan mengatakan, bawang menjadi komoditas paling menjanjikan karena memiliki keuntungan lebih stabil dibanding usaha lainnya.
"Lele masih berjalan, sayuran kurang ekonomis, tapi bawang ini yang paling menjanjikan. Keuntungannya bisa untuk kas masjid dan jamaah," katanya.
Budidaya jamur juga berkembang melalui produk olahan jamur krispi dengan varian rasa keju, original, barbecue, dan pedas untuk meningkatkan nilai ekonomi hasil panen.
Ridwan berharap program tersebut mampu menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.
"Harapan kami, masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga pusat kegiatan ekonomi. Jadi masyarakat tertarik datang, bukan hanya mencari ilmu, tapi juga ada manfaat ekonominya," tuturnya.
Sementara itu, Koordinator Penyuluh Buruan Sae Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung, Ucu Nurhasanah mengatakan pihaknya terus mendampingi kelompok urban farming untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga di lingkungan warga.
"Dengan bawang ini kami melihat hasilnya cukup berhasil. Ini bagus sekali dan potensial untuk dikembangkan lebih luas," ujar Ucu.
DKPP Kota Bandung juga akan memperkuat bantuan sarana, prasarana, dan pembinaan agar kelompok Wakaf Hijau semakin mandiri dan berkelanjutan. (R)
beritaTerkait
komentar