Minggu, 24 Mei 2026

Bantu Pulihkan Psikososial Murid PAUD Pascabanjir, Kemendikdasmen Turun Langsung ke Langkat

Selasa, 03 Februari 2026 11:00 WIB
Bantu Pulihkan Psikososial Murid PAUD Pascabanjir, Kemendikdasmen Turun Langsung ke Langkat
Tim Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kemendikdasmen berfoto bersama pendidik dan murid PAUD terdampak banjir saat kegiatan pendampingan psikososial di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, Rabu (29/1/2026). (Dok/Kemendikdasmen)

Langkat (buseronline.com) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Direktorat Pendidikan Anak Usia Dini (Dit PAUD) menerjunkan tim pendampingan psikososial ke Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, pada 28–30 Januari 2026.


Langkah ini dilakukan untuk memulihkan trauma emosional murid dan pendidik pascabanjir besar yang merendam sejumlah wilayah serta merusak fasilitas pendidikan.


Pemerintah menilai, pemulihan layanan pendidikan anak usia dini tidak cukup hanya dengan membangun kembali gedung sekolah, tetapi juga harus dibarengi penguatan kesehatan mental anak dan guru agar proses belajar-mengajar dapat berjalan optimal.


Direktur PAUD Kemendikdasmen, Nia Nurhasanah, mengatakan rekonstruksi fisik tidak akan efektif tanpa pemulihan kondisi psikologis para penghuni sekolah. Menurutnya, stabilitas emosi menjadi fondasi utama sebelum pembelajaran formal kembali dilaksanakan.


“Pemulihan pascabencana sering kali terjebak pada angka-angka kerusakan fisik. Namun bagi anak usia dini, rasa aman yang hilang adalah kerugian terbesar. PAUD harus segera kembali menjadi ruang yang stabil, aman, dan menenangkan bagi mereka untuk tumbuh,” ujar Nia saat membuka sesi pendampingan di Langkat.


Hal senada disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah (Dirjen PAUD Dasmen), Gogot Suharwoto. Ia menegaskan bahwa kehadiran pemerintah bertujuan memulihkan rasa aman anak-anak sebagai prasyarat pembelajaran yang bermakna.


“Pemulihan pascabencana tidak cukup sebatas perbaikan fisik sekolah. Pemerintah hadir untuk memulihkan rasa aman anak-anak. Pemulihan psikososial adalah kunci agar pembelajaran PAUD kembali hidup,” tegasnya.


Kondisi di lapangan menunjukkan beratnya dampak yang dialami satuan pendidikan. Aisya, pengelola PAUD Azkiyah, mengungkapkan sekolah sekaligus rumahnya terendam banjir selama sembilan hari sehingga seluruh sarana belajar rusak.


“Kami kehilangan hampir semua alat peraga dan perlengkapan belajar. Anak-anak juga sempat takut kembali ke sekolah,” ujarnya.


Hal serupa dialami Rusmayanti dari PAUD Al-Hafiz yang harus bertahan di pengungsian selama 12 hari. Ia mengaku kesulitan mendokumentasikan kerusakan karena fokus membersihkan sisa lumpur agar tidak menjadi sumber penyakit.


“Kami fokus pada pembersihan sisa banjir agar tidak membahayakan kesehatan anak-anak, jadi banyak bukti fisik barang rusak yang sudah tidak ada,” keluhnya.


Menanggapi hal itu, dilansir dari laman Kemendikdasmen, Dit PAUD menyusun skema bantuan yang fleksibel namun tetap akuntabel. Pengajuan bantuan tetap dapat diproses dengan melampirkan dokumentasi foto dampak banjir dan estimasi kerugian yang rasional.


Kemendikdasmen membagi intervensi dalam tiga kategori. Pertama, Program Revitalisasi untuk kerusakan berat dan sedang. Kedua, Bantuan Peningkatan Mutu bagi kerusakan ringan, termasuk pengadaan Alat Peraga Edukatif (APE) sederhana. Ketiga, koordinasi pengecekan garansi vendor untuk perangkat teknologi informasi seperti laptop dan papan interaktif digital. Sementara buku-buku yang rusak akan diganti melalui koordinasi dengan Pusat Perbukuan.


Di tengah keterbatasan fasilitas, para pendidik juga didorong berinovasi dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai media belajar. Pendekatan kontekstual dinilai mampu menjaga stimulasi perkembangan anak sekaligus membantu mengalihkan fokus dari trauma bencana.


Sebagai tindak lanjut, Dinas Pendidikan Kabupaten Langkat melakukan pendataan cepat melalui instrumen Data Pokok Pendidikan (Dapodik) guna memetakan satuan PAUD terdampak dan menentukan prioritas bantuan.


Kemendikdasmen berharap langkah pemulihan di Langkat dapat menjadi model penanganan bencana di sektor pendidikan anak usia dini di daerah lain. Bagi pemerintah, kembalinya tawa anak-anak di ruang kelas menjadi indikator utama keberhasilan rehabilitasi pascabencana. (R)

Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Kemendikdasmen Dorong Pemerataan Pendidikan Lewat Digitalisasi Wilayah 3T
Kementan Pacu Gerakan Tanam Serentak 50 Ribu Hektare di 25 Provinsi
KPK Luncurkan Program “Desa Matang Pengadaan” untuk Perkuat Pencegahan Korupsi Dana Desa
PSEL Medan Raya Ditargetkan Groundbreaking 2026, Olah hingga 1.700 Ton Sampah per Hari
Kemendikdasmen Gelar Komitmen Bersama SPMB Ramah 2026/2027, Tekankan Akses Pendidikan Tanpa Diskriminasi
Pemprov Jateng Pastikan Kesehatan Hewan Kurban Idul Adha 2026, Populasi Ternak Diproyeksikan Surplus
komentar
beritaTerbaru