Medan (buseronline.com) - Kementerian Pertanian (Kementan) bergerak cepat melakukan rehabilitasi lahan pertanian hortikultura di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) yang terdampak bencana banjir dan longsor.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya memulihkan perekonomian masyarakat sekaligus menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, khususnya komoditas cabai.
Direktur Sayur dan Tanaman Obat Kementan, M Agung Sanusi, mengatakan rehabilitasi difokuskan pada tanaman cabai yang terdampak cukup luas. Berdasarkan pendataan, sekitar 436,99 hektare lahan cabai di Sumut mengalami kerusakan akibat bencana, disertai sebagian kecil lahan sayuran lainnya.
“Untuk cabai, total sekitar 440 hektare lahan terdampak, terdiri dari Sumatera Utara 436,99 hektare dan Sumatera Barat 3,04 hektare. Insyaallah, minggu ini semuanya sudah clear untuk ditangani,” ujar Agung saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2025 yang digelar secara virtual dari Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan, Kementan telah menyiapkan lebih dari 1.800 saset bibit cabai untuk mendukung rehabilitasi, sekaligus membantu proses pengolahan lahan agar petani dapat segera kembali menanam.
“Kami bergerak cepat terutama untuk lokasi terdampak bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Rehabilitasi ini penting agar produksi segera pulih dan petani bisa kembali beraktivitas,” katanya.
Wakil Gubernur Sumut Surya menyatakan Pemerintah Provinsi Sumut memberikan dukungan penuh terhadap program rehabilitasi lahan hortikultura tersebut. Menurutnya, langkah ini sangat strategis untuk menekan potensi lonjakan harga pangan di daerah yang masih berada dalam status tanggap bencana.
“Kita akan memberikan dukungan penuh terhadap rehabilitasi lahan hortikultura. Mudah-mudahan melalui kerja sama seluruh pihak, kenaikan harga komoditas di Sumut bisa kita redam,” ujar Surya yang mengikuti rapat secara virtual dari Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro Nomor 30, Medan.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Tomsi Tohir, meminta pemerintah daerah terus bekerja keras menjaga stabilitas harga pangan, terutama komoditas yang mengalami kenaikan signifikan akibat gangguan produksi dan distribusi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kenaikan harga cabai di Sumut tercatat cukup tajam pada minggu kedua Desember 2025. Kabupaten Nias menjadi daerah dengan lonjakan tertinggi, yakni mencapai 119,37 persen dibandingkan minggu kedua November.
Selain Nias, kenaikan harga cabai merah juga terjadi di sejumlah daerah lain, seperti Nias Utara sebesar 43,55 persen, Padanglawas Utara 36,21 persen, Padanglawas 30,62 persen, Tapanuli Selatan 26,63 persen, Simalungun 26,05 persen, dan Langkat 23,28 persen. Kenaikan serupa juga tercatat di Kabupaten Batubara, Mandailing Natal, Tebing Tinggi, dan Samosir.
Dengan percepatan rehabilitasi lahan pertanian tersebut, Kementan bersama pemerintah daerah berharap produksi hortikultura, khususnya cabai, dapat segera pulih sehingga perekonomian petani bangkit kembali dan inflasi pangan di Sumut dapat terkendali. (R)
Editor
: Dirgahayu Ginting
beritaTerkait
komentar