Minggu, 12 April 2026

Dirjen Dikti: Profesi Kesehatan Merupakan Profesi Kemanusiaan

Minggu, 07 September 2025 12:16 WIB
Dirjen Dikti: Profesi Kesehatan Merupakan Profesi Kemanusiaan
Dirjen Dikti Khairul Munadi bersama pimpinan Institut Kesehatan Medistra Lubukpakam dan mahasiswa usai kuliah umum di Medan, Sabtu (30/8/2025). (Dok/Diktisaintek)
Medan (buseronline.com) - “Menolong satu nyawa seperti menyelamatkan seluruh umat manusia,” demikian pesan ayat suci yang dikutip Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti), Khairul Munadi, saat menyampaikan kuliah umum di Institut Kesehatan Medistra Lubukpakam, Sabtu.

Acara tersebut dihadiri Kepala LLDikti Wilayah I Sumatera Utara, perwakilan APTISI Sumatera Utara, Ketua Yayasan Medistra Lubuk Pakam, Rektor Institut Kesehatan Medistra, serta jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa.

Tercatat 3.102 peserta hadir, menandakan tingginya antusiasme terhadap perhatian pemerintah pusat dalam peningkatan mutu pendidikan tinggi kesehatan.

Di hadapan ribuan mahasiswa, Khairul menegaskan bahwa profesi kesehatan adalah profesi kemanusiaan, yang tidak hanya menuntut penguasaan ilmu, tetapi juga empati dan integritas.

Ia menguraikan empat tantangan besar pendidikan tinggi kesehatan di Indonesia:

1. Distribusi dan ketersediaan tenaga kesehatan yang belum merata.

2. Peningkatan mutu lulusan, yang harus dibarengi pembentukan karakter, etika, dan empati.

3. Transformasi sistem kesehatan melalui academic health system, yakni sinergi antara kampus, rumah sakit, pemerintah, dan masyarakat.

4. Perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan telemedisin yang menuntut kesiapan generasi tenaga kesehatan baru.

“Pasien bukan sekadar angka. Mereka adalah ayah, ibu, anak, dan orang-orang tercinta. Sentuhan empati sering kali jauh lebih penting daripada sekadar mengobati,” tegas Khairul.

Dalam kesempatan itu, Ketua Yayasan Medistra, Johannes Sembiring, menuturkan perjalanan panjang institusi yang dimulai dari Akademi Keperawatan pada 1994. Berawal dari dua ruko sederhana dengan 40 mahasiswa, kini Medistra berkembang menjadi institut dengan 5 fakultas, 17 program studi, 5.485 mahasiswa aktif, dan 21.927 alumni.

“Capaian ini meneguhkan posisi Medistra sebagai salah satu perguruan tinggi kesehatan terkemuka di Sumatera Utara,” ujarnya.

Dirjen Dikti juga menitipkan harapan strategis kepada Medistra, antara lain:

Memperkuat riset dan pengabdian masyarakat terkait isu gizi, stunting, dan intervensi kesehatan berbasis desa,

Memperluas kolaborasi internasional melalui pertukaran mahasiswa, riset bersama, dan kerja sama digital lintas negara,

Mendorong inovasi pembelajaran digital, termasuk simulasi teknologi dan laboratorium virtual,

Memastikan penguatan program profesi di bidang kedokteran, keperawatan, kebidanan, farmasi, hingga fisioterapi.

Kepada mahasiswa, Khairul menyampaikan tiga pesan utama: menguasai ilmu dan keterampilan dengan target zero retaker pada uji kompetensi, membangun karakter berlandaskan empati dan integritas, serta menumbuhkan semangat belajar sepanjang hayat.

Sementara itu, Rektor Medistra, Rahmad Gurusinga, mengapresiasi dukungan pemerintah, termasuk penyaluran Beasiswa KIP Kuliah kepada 351 mahasiswa.

“Tentu dukungan ini memperkuat komitmen kami untuk bersinergi dengan pemerintah, sehingga program yang ada dapat berjalan lebih tepat sasaran dan memberi manfaat langsung bagi mahasiswa maupun masyarakat,” tuturnya. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Presiden Prabowo Dorong Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade
Pj Sekda Sumut Tekankan Pemerataan Dokter Spesialis hingga Kepulauan
Dinkes Bandung Genjot Cek Kesehatan Gratis dan Imunisasi untuk Tingkatkan Kesehatan Warga
Gubernur Sumut Siap Biayai Kegiatan IPA Sumut, Dukung Program Sosial Pelajar
Presiden Prabowo Apresiasi Kinerja Satgas PKH dalam Penyelamatan Aset Negara
Polri Perkuat Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi, Dirikan Pusat Studi Kepolisian di Universitas Borobudur
komentar
beritaTerbaru