Banjarbaru (buseronline.com) - Pelaksanaan Program Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 mendapat sambutan positif dari seluruh warga SMP Negeri 2 Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Program ini dinilai tidak hanya memperkuat aspek perlindungan murid, tetapi juga mendorong partisipasi aktif seluruh elemen sekolah, mulai dari guru, murid, orang tua, hingga masyarakat sekitar.
Kepala Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen, Rusprita Putri Utami, menegaskan bahwa keberhasilan mewujudkan budaya sekolah aman dan nyaman sangat bergantung pada kolaborasi semua pihak.
“Upaya kita untuk mewujudkan budaya sekolah aman dan nyaman, kuncinya adalah pelibatan seluruh pihak. Orang tua menjadi teladan di rumah, guru menjadi teladan di sekolah, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab yang sama,” ujar Rusprita saat kegiatan sosialisasi di Kota Banjarbaru.
Menurutnya, dilansir dari laman Kemendikdasmen, konsep sekolah aman dan nyaman saat ini tidak lagi dimaknai secara sempit. Kebijakan BSAN dirancang lebih komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan lingkungan belajar modern.
“Konteks aman dan nyaman di sekolah bukan hanya terkait isu kekerasan, tetapi bagaimana sekolah menjadi tempat yang benar-benar aman, bebas dari polusi dan asap rokok, serta menjamin keamanan dan keadaban di ruang digital,” jelasnya.
Dukungan terhadap kebijakan tersebut juga disampaikan oleh Kepala SMP Negeri 2 Banjarbaru, Norpiah. Ia mengatakan, pihak sekolah telah menyiapkan sejumlah langkah konkret untuk memastikan murid merasa aman dan nyaman secara menyeluruh.
“Kami memulai dari penyusunan kurikulum satuan pendidikan dan rencana kerja sekolah, yang semuanya diselaraskan dengan prinsip sekolah aman dan nyaman,” ungkap Norpiah.
Ia menambahkan, sekolah juga memastikan fasilitas yang aman dan ramah anak, menjamin kebebasan berekspresi murid, mencegah praktik perundungan (bullying), menjunjung kesetaraan sosial dan budaya, mengawasi ruang digital, serta menjamin kebebasan beribadah bagi seluruh peserta didik.
Lebih lanjut, Norpiah menjelaskan bahwa pihak sekolah menerapkan sistem deteksi dini sejak proses penerimaan murid baru.
“Sebelum siswa masuk, kami sudah membagikan formulir riwayat kesehatan, kebutuhan psikologis, serta minat dan bakat. Ini membantu kami memetakan kebutuhan mereka agar sejak hari pertama sudah merasa nyaman,” tambahnya.
Peran guru sebagai pendamping murid juga menjadi faktor penting dalam mendukung implementasi BSAN. Guru wali SMP Negeri 2 Banjarbaru, Eli Setiawan, menuturkan bahwa komunikasi yang humanis dan pendampingan berkelanjutan menjadi praktik utama yang diterapkan di sekolah.
“Di sinilah harus selalu ada komunikasi yang ramah dan santun, yang semuanya demi kebaikan anak,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya kepekaan guru terhadap perubahan perilaku murid sebagai upaya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis.
“Kalau ada anak yang biasanya ceria tiba-tiba menjadi pendiam, itu sinyal bagi kami untuk lebih peka. Jangan sampai guru sibuk mengajar tapi lupa mendidik dan mendampingi,” katanya.
Dari sisi murid, Malik Farabi Ramadani, siswa SMP Negeri 2 Banjarbaru, memaknai sekolah aman dan nyaman tidak hanya dari kelengkapan sarana prasarana, tetapi juga dari kualitas hubungan antarsesama warga sekolah.
“Jika sarana dan prasarana mendukung, maka sekolah bisa dikatakan aman dan nyaman. Selain itu, hubungan yang baik dengan teman dan guru, saling menghormati dan menghargai perbedaan, membuat saya semakin semangat ke sekolah,” ujarnya.
Ia juga menilai peran teman sebaya sebagai “sahabat hebat” turut membantu menciptakan lingkungan sekolah yang sehat dan suportif.
“Dengan hubungan yang positif, kita bisa saling menolong, jadi tempat curhat, dan belajar mencari solusi bersama,” tambah Malik.
Melalui keterlibatan aktif seluruh warga sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, murid, orang tua, hingga masyarakat dan media, penyelenggaraan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman diharapkan dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan.
Kolaborasi lintas pihak ini menjadi fondasi penting dalam membangun lingkungan belajar yang aman, sehat, inklusif, serta menjunjung tinggi martabat manusia, sekaligus mendukung tumbuh kembang murid secara utuh, baik secara akademik, karakter, mental, sosial, maupun spiritual. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar