Jakarta (buseronline.com) - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menegaskan mahasiswa memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan bonus demografi sekaligus menjadi penentu terwujudnya Indonesia Emas 2045.
Penanaman budaya antikorupsi sejak bangku kuliah dinilai sebagai investasi jangka panjang yang mutlak dilakukan.
Hal tersebut disampaikan dalam Annual Recht Event Fakultas Hukum Universitas Sahid bertajuk “Pemuda Bicara Integritas: Membangun Indonesia Tanpa Korupsi” yang digelar di Kampus Soepomo, Jakarta, Senin.
Wakil Ketua KPK, Ibnu Basuki Widodo mengatakan perguruan tinggi berperan penting dalam membentuk karakter, moral, dan integritas generasi muda. Menurutnya, kampus merupakan bagian dari strategi pencegahan korupsi yang berkelanjutan.
“Melalui pendidikan, mahasiswa memiliki peran besar dalam upaya pemberantasan korupsi. Kampus adalah ruang strategis untuk menanamkan nilai kejujuran dan integritas,” ujar Ibnu, dilansir dari laman KPK.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2024, jumlah pemuda Indonesia mencapai sekitar 64,22 juta jiwa.
Angka tersebut diproyeksikan terus meningkat seiring Indonesia memasuki periode bonus demografi pada 2030-2045, sehingga peran perguruan tinggi dinilai semakin krusial.
Sementara itu, Rektor Universitas Sahid, Giyatmi, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak hanya bertugas mencetak lulusan unggul secara akademik, tetapi juga membentuk calon pemimpin bangsa yang berkarakter dan berintegritas.
“Kampus harus menjadi ruang membangun kejujuran dan integritas,” tegasnya.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan gelar wicara yang menghadirkan Direktorat Jejaring Pendidikan KPK, Kejaksaan, Mahkamah Agung (MA), serta Kepolisian.
Diskusi tersebut membahas dinamika penegakan hukum dan penguatan kolaborasi lintas lembaga dalam pemberantasan korupsi.
Melalui kegiatan ini, KPK berharap kampus terus menjadi garda terdepan penanaman nilai antikorupsi, sehingga generasi muda mampu bertransformasi dari bonus demografi menjadi bonus integritas demi terwujudnya Indonesia bebas korupsi. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar