Selasa, 07 April 2026

Pendidikan Antikorupsi Berbasis Seni dan Budaya Dikuatkan melalui Kolaborasi KPK–ISI Yogyakarta

GY Simanjuntak MSi - Rabu, 10 Desember 2025 09:07 WIB
Pendidikan Antikorupsi Berbasis Seni dan Budaya Dikuatkan melalui Kolaborasi KPK–ISI Yogyakarta
Wakil dari Komisi Pemberantasan Korupsi bersama jajaran Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta bertukar cendera mata usai dialog antikorupsi dalam program “Biasakan yang Benar di Kampus”, di Concert Hall ISI Yogyakarta, Senin (8/12/2025). (Dok/KPK)
Yogyakarta (buseronline.com) - Nilai-nilai antikorupsi dapat ditanamkan melalui berbagai medium, termasuk seni yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Melalui ekspresi kreatif, pesan tentang kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab dinilai dapat tersampaikan secara lebih kuat dan emosional.

Pandangan ini disampaikan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam dialog bersama civitas akademika Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam program “Biasakan yang Benar di Kampus” di Concert Hall ISI, Senin.

Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, menuturkan bahwa seni memiliki kekuatan menyampaikan kritik sosial dan membentuk karakter. Karena itu, dunia seni dapat menjadi pintu masuk strategis untuk memperkuat gerakan pendidikan antikorupsi di kalangan generasi muda.

“Seni tidak lepas dari kehidupan sehari-hari, termasuk pemberantasan korupsi. Banyak nilai kejujuran, keberanian, dan tanggung jawab justru tersampaikan lebih jernih,” ujar Tanak.

ISI Yogyakarta dikenal sebagai ruang lahirnya berbagai karya seni tradisional, modern, hingga kontemporer. Banyak karya mahasiswa yang mengangkat tema kritik sosial, perilaku bersih, dan ajakan berintegritas.

Menurut KPK, ekosistem kreatif ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas edukasi antikorupsi dengan pendekatan yang lebih membumi.

Tanak mendorong para mahasiswa, seniman muda, dan content creator untuk memakai nalar serta imajinasi sebagai alat kritik sosial.

“Maka gunakan nalar dan imajinasi kita. Gambarkan dampak buruk korupsi dan bagaimana integritas menjaga kita dari praktik tersebut. Seperti ketika kita akan melukis, kita bisa membayangkan lebih dulu wujud karya yang ingin kita hasilkan,” jelasnya.

Dialog turut menampilkan karya-karya sineas muda lulusan Anti-Corruption Film Festival (ACFFEST) 2025, antara lain film “How To Be An Actor” dan “Tumpukan Sekitar Kota.” Salah satu sineas, Dimas Juju, menjelaskan bahwa pesan integritas justru dapat berjalan efektif melalui cerita sederhana yang relevan bagi berbagai kalangan.

“Di film ini, kami ingin menonjolkan karakter yang tidak memiliki power, tapi menjadi korban ketika kekuasaan disalahgunakan,” ungkap Juju.

Wakil Rektor ISI Bidang Kemahasiswaan, Kholid Arif, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi KPK dan lembaga seni dalam peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA) 2025. Menurutnya, pendidikan antikorupsi berbasis seni sangat dekat dengan aktivitas mahasiswa ISI.

“Kegiatan ini luar biasa penting bagi kita. Kesadaran antikorupsi penting disadari, karena berkaitan dengan mental antikorupsi,” tegasnya.

Selain ACFFEST, KPK terus memperkuat pendekatan kreatif melalui program “Benar Benar Kompetisi” pada November 2025 yang mendorong kreator digital memproduksi konten bernilai integritas dengan cara segar dan mudah dipahami generasi muda.

Dengan menggandeng kampus serta komunitas kreatif, KPK berharap semangat antikorupsi terus tumbuh di berbagai lapisan masyarakat, sehingga integritas dapat menjadi budaya dan fondasi untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru