Jakarta (buseronline.com) - Direktorat Pencegahan Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88 AT) Polri mengambil peran aktif dalam pencegahan radikalisme sejak dini melalui kegiatan Sosialisasi Sekolah Rukun dan Ramah Anak. Program ini digelar Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kramat Jati, Sabtu, di Jakarta.
Kegiatan tersebut dihadiri 110 peserta yang terdiri dari tenaga pendidik, perwakilan sekolah, pimpinan cabang Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia (MUI), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB).
IPDA Muhammad Audi Aqshal Afandi SPd dari Direktorat Pencegahan Densus 88 AT Polri menyatakan, kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam membangun budaya damai dan toleransi di lingkungan pendidikan.
“Program ini merupakan upaya kolektif untuk mencegah penyebaran Ideologi Radikal Ekstremisme dan Terorisme (IRET) sejak dini, serta menumbuhkan nilai-nilai kebangsaan di kalangan peserta didik,” ujarnya.
Dalam sosialisasi, peserta diberikan materi mengenai pencegahan paham IRET, penguatan ideologi kebangsaan, dan bahaya bullying yang dapat menjadi pemicu radikalisme. Salah satu ilustrasi yang digunakan adalah kasus bullying di SMA 72, yang menunjukkan bagaimana kekerasan di lingkungan sekolah dapat memicu benih-benih radikalisme pada siswa.
IPDA Muhammad Audi menambahkan, kegiatan ini diharapkan dapat melahirkan peserta sebagai agen perubahan di lingkungan pendidikan masing-masing.
“Harapan kami, para peserta dapat menjadi DUTA CEGAH yang memahami nilai toleransi, ideologi kebangsaan, serta ikut berperan dalam menangkal bahaya IRET di sekolah,” jelasnya.
Acara ditutup dengan penandatanganan Deklarasi dan Komitmen Sekolah Rukun dan Ramah Anak oleh seluruh peserta sebagai simbol nyata dukungan terhadap program tersebut.
Program ini menjadi bagian dari upaya sinergi antara aparat keamanan dan masyarakat dalam menjaga ideologi bangsa serta menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, damai, dan bebas dari pengaruh radikalisme. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar