Senin, 06 April 2026

Bupati Garut Dorong Profesionalisasi Tata Kelola Pendidikan

GY Simanjuntak MSi - Jumat, 12 September 2025 10:28 WIB
Bupati Garut Dorong Profesionalisasi Tata Kelola Pendidikan
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, memberikan arahan kepada jajaran Dinas Pendidikan Kabupaten Garut terkait peningkatan tata kelola pendidikan di Aula Dinsos Garut, Selasa (9/9/2025). (Dok/Diskominfo Garut)
Garut (buseronline.com) - Bupati Garut Abdusy Syakur Amin memberikan arahan kepada Koordinator Wilayah Kecamatan Bidang Pendidikan dan pegawai Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Garut di Aula Dinsos Garut, Jalan Patriot, Kecamatan Tarogong Kidul, Selasa.

Dalam arahannya, Syakur menyoroti sejumlah isu penting dalam dunia pendidikan, mulai dari Ruang Kelas Baru (RKB) hingga Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Ia mengakui bahwa Kabupaten Garut masih memiliki banyak pekerjaan rumah di sektor pendidikan.

“Kita berada di kondisi yang tidak ideal serta harus mengejar ketertinggalan, dan ketertinggalan itu bukan saya yang menentukan, tetapi harus bersama-sama dengan teman-teman,” tegas Syakur.

Bupati Garut juga menyoroti permasalahan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) yang dianggap bermasalah. Menurutnya, hampir 90 persen PKBM di Garut tidak terakreditasi dan diduga tidak memiliki keberadaan atau operasional yang sah. Oleh karena itu, Syakur menekankan perlunya perbaikan tata kelola yang profesional di bidang tersebut.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Asep Wawan, memaparkan kondisi pendidikan terkini di Garut, termasuk perbandingan dengan Jawa Barat dan nasional. Beberapa data yang disampaikan antara lain:

1. IPM: Garut 69,9, jauh di bawah IPM Jawa Barat (74,92), menempatkan Garut di peringkat 26 dari 27 kabupaten/kota.

2. Rata-rata Lama Sekolah (RLS): 7,85 tahun, di bawah rata-rata Jawa Barat (8,87 tahun), menempatkan Garut di peringkat 21.

3. Harapan Lama Sekolah (HLS): 12,17 tahun, di bawah rata-rata provinsi (12,80 tahun), menempatkan Garut di peringkat 24.

Asep Wawan juga menyoroti persentase pendidik yang belum bersertifikat, yaitu 92 persen di PAUD, 38,15 persen di SD, dan 45,6 persen di SMP. Menurutnya, masih banyak guru di Garut yang belum memiliki sertifikat.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, Disdik Garut berkomitmen meningkatkan IPM menjadi 73,68 pada 2029, serta menaikkan RLS dan HLS. Target lainnya adalah Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk SD menjadi 100 persen dan SMP menjadi 96,35 persen.

Disdik Garut telah merumuskan 6 program, 18 kegiatan, dan 96 subkegiatan, mencakup Program Keunggulan Pendidikan, Pengembangan Kurikulum, dan Pengembangan Pendidik.

“Kami optimistis, dengan kerja keras dan kolaborasi semua pihak, mutu pendidikan di Garut dapat terus meningkat, dan masyarakat mendapatkan pelayanan pendidikan yang profesional,” kata Asep Wawan. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Indonesia Minta Evaluasi Keamanan Pasukan Perdamaian Dunia Usai Gugurnya Tiga Prajurit UNIFIL
Pemkab Taput Dukung Groundbreaking Jembatan Sitakka yang Dibangun Kodam I/BB
Gubernur Pramono Pastikan Penanganan Optimal bagi Siswa Korban Dugaan Keracunan MBG di RSKD Duren Sawit
BURT Pastikan Layanan Prima Provider Jasindo Saat Tinjau RS Columbia Asia BSD
Tingkatkan Literasi Generasi Penerus, Pendamping Anak Perlu Terampil
150 Alumni LPDP Dilibatkan Mendikdasmen Dampingi Belajar Digital di Wilayah 3T
komentar
beritaTerbaru