Minggu, 12 April 2026

Perkuat Mutu dan Distribusi Tenaga Medis, Kemdiktisaintek Implementasikan Sistem Kesehatan Akademik

Senin, 08 September 2025 10:21 WIB
Perkuat Mutu dan Distribusi Tenaga Medis, Kemdiktisaintek Implementasikan Sistem Kesehatan Akademik
Dirjen Dikti Khairul Munadi bersama Rektor USK dan para pemangku kepentingan berfoto bersama usai pembahasan rencana aksi Sistem Kesehatan Akademik (SKA) Wilayah I di Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Jumat (5/9/2025). (Dok/Diktisaintek)
Banda Aceh (buseronline.com) - Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mendorong akselerasi peningkatan mutu serta pemerataan tenaga medis, khususnya dokter spesialis dan subspesialis, dengan mengembangkan Sistem Kesehatan Akademik (SKA). Langkah ini menjadi bagian dari transformasi pembangunan kesehatan nasional sesuai Asta Cita.

Kemdiktisaintek telah meluncurkan program percepatan pemenuhan dan distribusi tenaga medis pada 22 Juli 2025. Implementasi program dilakukan dengan pembukaan 148 program studi baru dokter spesialis dan subspesialis di 57 fakultas kedokteran di seluruh Indonesia, mulai tahun 2025.

Salah satu tindak lanjut nyata adalah Rencana Aksi Penguatan SKA Wilayah I (DI Aceh) yang dilaksanakan melalui forum kolaborasi di Universitas Syiah Kuala (USK), Jumat. Acara ini dihadiri Dirjen Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, Rektor USK, Wali Kota Banda Aceh, pimpinan FK dan FKG USK, pimpinan FK Universitas Sumatera Utara selaku koordinator SKA Wilayah I, direktur RSUD Zainoel Abidin dan RSUD Meuraxa, serta jajaran dekan dan ketua program studi pendidikan dokter spesialis.

Dirjen Dikti Khairul Munadi menegaskan bahwa SKA menjadi model kemitraan strategis dalam menjawab kebutuhan tenaga medis di seluruh wilayah.

“Presiden RI menekankan pentingnya ketersediaan dokter spesialis dan subspesialis sebagai bagian dari pembangunan nasional. Sistem Kesehatan Akademik hadir untuk memperkuat kemandirian wilayah dalam pemenuhan tenaga medis melalui ekosistem yang saling mendukung,” ujarnya.

Program akselerasi ini, lanjut Khairul, dijalankan melalui tiga strategi utama: pembukaan prodi baru dan peningkatan kuota mahasiswa, penempatan residen senior di rumah sakit prioritas, serta penguatan kemitraan lintas kementerian dan pemerintah daerah.

Dekan FK USK, Safrizal Rahman, menuturkan bahwa fakultas yang berdiri sejak 1982 itu kini memiliki 27 program studi, termasuk 19 program pendidikan dokter spesialis. Pihaknya berkomitmen mendukung akselerasi dengan membuka enam program studi baru, yakni tiga program spesialis-1 (bedah saraf, kesehatan mata, bedah anak) dan tiga program subspesialis (bedah digestif, jantung dan pembuluh darah, serta obstetri dan ginekologi).

Safrizal juga menekankan pentingnya internasionalisasi pendidikan. Saat ini FK USK menampung delapan mahasiswa asal Palestina dan satu mahasiswa asal Korea Selatan di program PPDS. Namun, ia tak menampik adanya tantangan, mulai dari keterbatasan sarana, isu jabatan fungsional dosen, hingga retribusi pendidikan kedokteran yang masih tinggi.

Rektor USK, Marwan, menambahkan bahwa percepatan pembangunan kesehatan memerlukan langkah terpadu pemerintah dan perguruan tinggi. “USK melihat masih banyak ruang untuk menambah jumlah peserta PPDS, dan hal ini membutuhkan kemitraan kuat dengan pemerintah daerah,” katanya.

Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, juga menegaskan dukungan konkret dengan memangkas biaya retribusi pendidikan di RSUD Dr. Meuraxa. “Biaya pendidikan di rumah sakit dipangkas hingga 70 persen bagi mahasiswa kedokteran, bahkan nol rupiah untuk pendidikan dokter spesialis,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Tim Kajian Pendidikan Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan, Tri Hanggono Achmad, menjelaskan percepatan akan ditempuh melalui lima pilar: penguatan SKA, peningkatan kapasitas distribusi pendidikan tenaga medis, penguatan kemitraan, resource sharing, dan deregulasi adaptif terhadap standar mutu.

Kemdiktisaintek juga menyiapkan dukungan kebijakan komprehensif berupa regulasi quick wins, pembentukan Komite Bersama dengan Kemenkes, serta kolaborasi strategis dengan LPDP, BPJS Kesehatan, Kemendagri, Kemenhan, dan sektor swasta.

Dengan langkah ini, pemerintah berharap terwujud pendidikan medis yang unggul, merata, dan berdampak luas bagi masyarakat. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
PSSI Gelar Program Coach Educator Development untuk Tingkatkan Kualitas Pelatih
Presiden Prabowo Dorong Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade
Pj Sekda Sumut Tekankan Pemerataan Dokter Spesialis hingga Kepulauan
Dinkes Bandung Genjot Cek Kesehatan Gratis dan Imunisasi untuk Tingkatkan Kesehatan Warga
Gubernur Sumut Siap Biayai Kegiatan IPA Sumut, Dukung Program Sosial Pelajar
Presiden Prabowo Apresiasi Kinerja Satgas PKH dalam Penyelamatan Aset Negara
komentar
beritaTerbaru