Minggu, 12 April 2026

Kemandirian Industri Indonesia Diperkuat dengan Teknologi 3D/4D Printing

Rabu, 13 Agustus 2025 07:19 WIB
Kemandirian Industri Indonesia Diperkuat dengan Teknologi 3D/4D Printing
Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB).
Bandung (buseronline.com) - Teknologi 3D/4D printing dinilai menjadi salah satu kunci strategis dalam mewujudkan kemandirian industri nasional. Topik tersebut dibahas dalam sesi “Kemandirian Teknologi Maju melalui Teknologi 3D/4D Printing” pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) Indonesia 2025, yang berlangsung di Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu (9/8/2025).

Sesi ini menghadirkan pembicara dari berbagai institusi, yakni Herianto dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Yanuandri Putrasari dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Vani Virdyawan dari ITB.

Herianto menjelaskan bahwa negara-negara maju memiliki strategi teknologi yang berbeda-beda, contohnya Jerman fokus pada otomasi dan Internet of Things (IoT), Amerika Serikat mengintegrasikan kecerdasan buatan dan big data, sedangkan Korea Selatan mengembangkan industri semikonduktor dan elektronik.

Menurutnya, 3D printing merupakan proses manufaktur aditif yang membangun objek lapis demi lapis, berbeda dengan proses subtraktif yang mengurangi material. Sedangkan 4D printing adalah pengembangan 3D printing dengan penggunaan material cerdas (smart material) yang dapat merespons perubahan waktu atau suhu.

“Publikasi global mengenai manufaktur aditif telah mencapai 159.201 dokumen hingga 2024, didominasi bidang teknik (28,8%) dan sains material (22,2%),” kata Herianto.

Dia menekankan bahwa teknologi 3D/4D printing sangat relevan dengan agenda pembangunan nasional Indonesia, terutama dalam empat pilar teknologi material, desain, mesin, dan aplikasi yang mendukung target Asta Cita.

“Pengembangan material maju menjadi peluang besar, sedangkan kemampuan mencetak desain kompleks dan futuristik mendukung tujuan kewirausahaan (Asta Cita 3), memperkuat sains dan teknologi (Asta Cita 4), serta melanjutkan hilirisasi (Asta Cita 5),” tambahnya.

Sementara itu, Yanuandri Putrasari, Kepala Pusat Riset Mekatronika Cerdas BRIN, mengungkapkan bahwa lembaganya fokus pada riset, pengembangan, dan aplikasi mekatronika yang menggabungkan ilmu mesin, elektronika, informatika, dan kontrol.

“Fokus riset kami meliputi sistem otonom untuk kendaraan listrik serta mekatronika cerdas di bidang pangan, energi, dan kesehatan,” ujar Yanuandri.

Salah satu hasil riset BRIN adalah “Seater”, kendaraan listrik otonom berkapasitas satu orang yang dapat digunakan untuk pengiriman barang, transportasi penumpang, hingga membantu mobilitas penyandang disabilitas. Selain itu, BRIN juga mengembangkan prototipe keamanan dan pertahanan seperti robot penjinak bom Morolipi V2 dan sistem senjata kendali jarak jauh (RCWS) Kaliber 7,62 mm.

Di sisi lain, Vani Virdyawan dari ITB mengungkapkan sejumlah tantangan dalam pengembangan 3D/4D printing di Indonesia. Salah satunya adalah belum adanya Standar Nasional Indonesia (SNI) atau regulasi teknis yang mengatur produk di sektor kritikal seperti medis dan dirgantara.

“Tantangan lain termasuk minimnya insentif fiskal bagi industri rintisan dan UMKM, serta perlindungan hak kekayaan intelektual (HKI) atas desain digital yang belum optimal,” jelas Vani.

Kegiatan KSTI Indonesia 2025 ini diharapkan dapat mendorong percepatan adopsi dan pengembangan teknologi 3D/4D printing demi kemandirian dan daya saing industri nasional di era global. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
PSSI Gelar Program Coach Educator Development untuk Tingkatkan Kualitas Pelatih
Presiden Prabowo Dorong Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade
Pj Sekda Sumut Tekankan Pemerataan Dokter Spesialis hingga Kepulauan
Dinkes Bandung Genjot Cek Kesehatan Gratis dan Imunisasi untuk Tingkatkan Kesehatan Warga
Gubernur Sumut Siap Biayai Kegiatan IPA Sumut, Dukung Program Sosial Pelajar
Presiden Prabowo Apresiasi Kinerja Satgas PKH dalam Penyelamatan Aset Negara
komentar
beritaTerbaru