Minggu, 12 April 2026

Cegah Kenakalan Remaja, KDM Dorong Penempatan Psikolog di Sekolah

Senin, 21 Juli 2025 10:23 WIB
Cegah Kenakalan Remaja, KDM Dorong Penempatan Psikolog di Sekolah
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi saat menyampaikan rencana penempatan psikolog di sekolah untuk tangani kenakalan remaja, di Gedung DPRD Jabar, Kota Bandung, Sabtu (19/7/2025). (Dok/Humas Jabar)
Bandung (buseronline.com) - Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah strategis untuk menekan angka kenakalan remaja di lingkungan sekolah. Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan, pihaknya akan mengirimkan psikolog ke sekolah-sekolah di seluruh wilayah Jabar guna memberikan pendampingan intensif bagi siswa yang mengalami tekanan psikologis dan berpotensi menyimpang secara perilaku.

Langkah ini dinilai penting menyusul keprihatinan terhadap kondisi psikologis generasi muda, khususnya Gen Z, yang semakin kompleks dan membutuhkan penanganan profesional.

"Ada aspek yang bersifat kompleks, yang menurut saya itu psikologis yang dialami oleh Gen Z hari ini. Sehingga investigasinya perlu melibatkan psikolog agar kita mengetahui masalah itu secara terbuka. Supaya tidak menjadi problem di kemudian hari," ujar Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, saat menyampaikan pernyataan di Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Sabtu.

KDM menekankan bahwa kehadiran psikolog di sekolah akan memperkuat fungsi bimbingan dan konseling yang selama ini lebih banyak ditangani oleh guru Bimbingan Konseling (BK). Menurutnya, kondisi saat ini sudah masuk tahap darurat sehingga dibutuhkan tenaga profesional yang fokus pada aspek psikologis siswa.

"Saya akan mengajak pula Bupati/Wali Kota. Sudah semestinya di setiap sekolah ada psikolog, terutama di tingkat SMP dan SMA karena tak mungkin lagi hanya mengandalkan guru BK. Problemnya sudah akut," tegas KDM.

Lebih lanjut, ia menyoroti sejumlah faktor penyebab degradasi moral generasi muda saat ini, mulai dari derasnya arus informasi digital, minimnya aktivitas fisik, hingga kerusakan ekologi dan lingkungan sosial yang sempit. KDM menilai bahwa anak-anak saat ini cenderung pasif secara fisik, terlalu banyak menghabiskan waktu dengan gawai, serta terbatasnya ruang interaksi dengan orang tua.

“Anak-anak sekarang jarang bergerak, mengonsumsi makanan instan, hidup di lingkungan yang sempit, dan ekologinya sudah rusak. Sementara, pengaruh media sosial begitu besar dan mudah masuk ke dalam kehidupan mereka,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan bahwa jika dahulu kekhawatiran terbesar adalah paparan terhadap radikalisme, kini tantangan yang lebih nyata adalah konten-konten negatif di media sosial yang dapat merusak karakter anak. Hal tersebut mencakup perilaku kekerasan, tawuran, pelecehan seksual, dan berbagai bentuk penyimpangan lainnya.

“Yang disebut hari ini kalau dulu terpapar radikalisme, hari ini ancaman terpapar itu adalah virus yang dikembangkan melalui jaringan-jaringan. Kemudian menjadi tontonan dan itu memengaruhi,” tutupnya.

Langkah KDM ini diharapkan dapat menjadi solusi konkret dalam membina karakter siswa dan menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat secara emosional dan mental di Jawa Barat. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
Presiden Prabowo Dorong Pencak Silat Mendunia Menuju Olimpiade
Pj Sekda Sumut Tekankan Pemerataan Dokter Spesialis hingga Kepulauan
Dinkes Bandung Genjot Cek Kesehatan Gratis dan Imunisasi untuk Tingkatkan Kesehatan Warga
Gubernur Sumut Siap Biayai Kegiatan IPA Sumut, Dukung Program Sosial Pelajar
Presiden Prabowo Apresiasi Kinerja Satgas PKH dalam Penyelamatan Aset Negara
Polri Perkuat Kolaborasi dengan Perguruan Tinggi, Dirikan Pusat Studi Kepolisian di Universitas Borobudur
komentar
beritaTerbaru