Jakarta (buseronline.com) - Upaya mempercepat transformasi pendidikan tinggi vokasi di Indonesia semakin konkret dengan hadirnya kolaborasi strategis antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) dan FPT Corporation, perusahaan teknologi terkemuka asal Vietnam.
Pertemuan penting ini berlangsung di Gedung D, Kemdiktisaintek, Jakarta, Rabu, dalam audiensi yang juga melibatkan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Hanoi.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, menyambut positif kerja sama ini sebagai langkah penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan vokasi dan penguatan sumber daya manusia (SDM) digital Indonesia.
“Kita tidak boleh tertinggal dalam pengembangan talenta teknologi. Kolaborasi konkret seperti ini akan mempercepat proses transformasi pendidikan tinggi kita agar relevan dengan kebutuhan zaman dan industri,” ujar Menteri Brian.
Audiensi ini juga menjadi tindak lanjut dari komitmen bilateral antara Presiden Republik Indonesia dan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam dalam kunjungan kenegaraan pada Maret lalu. Kedua negara sepakat untuk meningkatkan hubungan menjadi comprehensive strategic partnership, termasuk dalam bidang pendidikan tinggi dan teknologi.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Vietnam, Denny Abdi, menekankan pentingnya sinergi antara dua negara besar di ASEAN ini dalam memajukan pendidikan dan SDM unggul di era digital.
“Indonesia dan Vietnam memegang peran penting di kawasan ASEAN. Kolaborasi kita dalam bidang pendidikan tinggi dan teknologi akan menjadi kunci untuk mencetak SDM unggul dan siap menghadapi tantangan transformasi digital,” ujarnya.
Dalam pertemuan tersebut, CEO FPT Group, Nguyen Van Khoa, menyampaikan komitmen FPT untuk bermitra dengan institusi pendidikan tinggi dan vokasi di Indonesia. FPT dikenal memiliki sistem pendidikan terintegrasi yang menghubungkan kurikulum dengan kebutuhan industri.
“FPT memiliki lebih dari 170.000 mahasiswa, dengan lebih dari 97% lulusan langsung terserap industri. Kami siap berbagi sistem kami ke Indonesia, termasuk untuk politeknik dan pendidikan tinggi di bidang AI, semikonduktor, dan transformasi digital,” jelas Nguyen.
Chairman FPT Education, Le Truong Tung, menambahkan bahwa FPT akan memulai kemitraan melalui jalur pendidikan nonformal sebagai langkah awal, dengan kemungkinan pengembangan ke jalur formal dalam jangka menengah.
“Dengan pendekatan kurikulum terstandardisasi, berbasis industri, dan fleksibilitas teknologi digital, kami percaya model pendidikan kami bisa diterapkan di Indonesia dengan efektif,” katanya.
Rektor FPT Polytechnic, Vu Chi Thanh, juga menawarkan sejumlah program kerja sama seperti pertukaran mahasiswa, magang industri, hingga kolaborasi riset. Ia menegaskan bahwa model pendidikan FPT menggabungkan kuliah daring, praktik langsung, dan penilaian berbasis industri.
“Kami siap menjadi mitra transformasi vokasi di Indonesia. Jika program ini diterapkan, kita bisa menghasilkan SDM yang siap kerja sejak lulus,” tegasnya.
Pertemuan ini dihadiri oleh jajaran pimpinan FPT, termasuk COO & CFO FPT Software, Nguyen Khai Hoan, dan CEO FPT Nguyen Hoang Tung. Dari pihak Indonesia, turut hadir Wakil Menteri Kemdiktisaintek Stella Christie, Dirjen Pendidikan Tinggi Khairul Munadi, serta Staf Khusus Menteri, Oki Earlivan.
Eriz Wicaksono dari Fungsi Penerangan FPT juga turut serta mendampingi delegasi.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi fondasi kuat bagi pengembangan pendidikan vokasi Indonesia yang adaptif, responsif terhadap kebutuhan industri, dan mampu mencetak lulusan siap kerja di era ekonomi digital. (R)
Editor
: GY Simanjuntak MSi
beritaTerkait
komentar